» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Info Kampus
Membangun Ulang Tatanan Gender Ala Kartini Melalui Pendidikan
24 April 2019 | Info Kampus | Dibaca 720 kali
Hari Kartini: Simposium Kartini Foto: dokumentasi pribadi/Faiz Zaki
Feminis tidak melawan laki-laki. Musuh utama feminis adalah laki-laki dan perempuan yang menghalangi kemajuan perempuan.

retorika.id - Peringatan Hari Kartini masih terasa pada Rabu (24/04/19) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Momen tersebut kemudian diadakan sebuah Simposium Pemikiran R.A. Kartini: Dekonstruksi Gender dan Visi Kesetaraan Perempuan dari ‘Habis Gelap, Terbitlah Terang’. Acara yang berlangsung di Ruang Adi Sukadana FISIP Unair ini dihadiri oleh tiga orang panelis berlatar belakang akademisi, diantaranya; Prof. Emy Susanti, Dr. Wahidah Zein Siregar, Prof. Anita Lie.

Tema besar yang dibahas adalah dekonstruksi gender di masyarakat, bagaimana eksistensi perempuan di era R. A. Kartini dahulu dengan masa sekarang. Merombak ulang konstruksi yang ada di masyarakat sangat penting untuk

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan di lingkungan sosial. Mengingat pada masa Kartini, kontribusi perempuan sebenarnya ada, tetapi tidak dilihat, dan tidak diakui.

Hal tersebut diutarakan oleh Prof. Emy, ia juga mengingatkan bahwa peran R. A. Kartini telah melahirkan pemikiran dekonstruksi mengenai kebodohan-kebodohan, terutama pada perempuan, “Anak perempuan dan laki-laki harus mendapatkan pendidikan yang baik,” ujarnya.

Emy berpendapat bahwa pendidikan merupakan hal yang utama untuk memberantas kebodohan dan memperbaiki situasi sosial maupun ekonomi. Dosen Sosiologi FISIP Unair ini menegaskan, “Ketika membicarakan ketidaksetaraan gender, tidak hanya persoalan individu, tetapi juga isu-isu keseluruhan dan internasional”.

Cita-cita R. A. Kartini adalah memperjuangkan pendirian sekolah bekerja sama dengan temannya. Tidak lain adalah mendidik semua anak agar mencerdaskan generasi muda.

Menurut Dr. Wahidah, Kartini juga sudah berpolitik karena luwesnya mencari berbagai cara untuk memerdekakan perempuan dan mewujudkan cita-citanya. Setelah Wahidah mengaji buku karya R. A. Kartini, ia berpesan, “Politik bukan hanya meraih kekuasaan, tetapi juga bagaimana meraih cita-cita.”

Simposium yang dimoderatori oleh Siti Nurjanah, M. A., ini memaparkan bahwa sesungguhnya feminisme itu bagaimana menyetarakan laki-laki dan perempuan untuk keadilan di masyarakat. “Feminis tidak melawan laki-laki. Musuh utama feminis adalah laki-laki dan perempuan yang menghalangi kemajuan perempuan,” ujar Nurjanah saat refleksi sementara setelah materi dari Dr. Wahidah.

Teladan baik dari R. A Kartini adalah ia seorang yang memegang teguh prinsip, dan ia bertindak. Prof. Anita Lie juga mengutarakan mengapa selalu Hari Kartini yang diperingati, “Kartini dianggap pahlawan karena menulis, tulisannya abadi, terdokumentasi sampai sekarang, ia menyuarakan atas keadaannya yang dipingit.” Terdidiknya seseorang juga mempengaruhi bagaimana bersikap, cara pandang orang lain yang berbeda bangsa atau sesama bangsanya.

Paling penting dari semua itu adalah apakah kita memiliki keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan.

 

Penulis: Faiz Zaki


TAG#gender  #  #  #