
Rangkaian PKKMB yang dilaksanakan pada Senin (4/8/2025) diwarnai berbagai dinamika yang terjadi di lapangan. Mulai dari mobilisasi yang tidak sesuai konsep awal hingga terjadinya beberapa miskomunikasi antarpanitia. Kondisi ini memicu keluhan dari berbagai pihak, seperti mahasiswa baru, penjaga booth ormawa, dan penjaga sekretariat Display UKM.
Retorika.id - Kegiatan Safari Ormawa dan Display UKM Panca Tirta digelar di dua lokasi, yaitu Student Center dan sepanjang jalanan malioboro. Seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ditempatkan di dalam Student Center, sedangkan jalanan malioboro digunakan sebagai lokasi booth Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) serta deretan UMKM.
Namun, Safari Ormawa yang berlangsung di jalanan malioboro mengalami sejumlah kendala. Salah satu staf divisi Koordinator Lapangan Amerta menjelaskan bahwa konsep awalnya adalah dua garuda akan memasuki lokasi secara bersamaan. Garuda pertama akan mengisi dari booth ormawa paling depan hingga ke tengah, sedangkan garuda selanjutnya akan mengisi dari booth tengah hingga paling belakang.
Sayangnya, karena jumlah mahasiswa baru di satu garuda saja sudah hampir mencapai area belakang, skema tersebut tidak dapat diterapkan di lapangan sesuai rencana. Alhasil, alur Safari Ormawa harus diubah. Hanya satu garuda yang akan mengunjungi seluruh booth ormawa di jalanan malioboro, kecuali booth UMKM, dengan waktu kunjungan selama sepuluh menit. Setelah itu, garuda berikutnya mengikuti alur yang sama.
“Konsep awal garudanya akan switch, garuda 1 ke belakang dan garuda 2 maju ke depan. Tapi diubah jadi satu satu garudanya yang maju. Sehingga akhirnya satu garuda akan mengisi semua tenant selama 10 menit kecuali umkm, lalu setelah itu garuda selanjutnya akan mengisi tenant di giliran selanjutnya setelah 10 menit berlalu. Setelah
10 menit, garuda awal akan menuju ke depan Gedung Nani untuk istirahat atau sesi UMKM selama 20 menit,” pungkas salah satu staf divisi Koordinator Lapangan Amerta yang saat itu sedang bertugas.
Namun, perubahan alur ini justru menimbulkan keluhan dari mahasiswa baru. Pasalnya, urutan masuknya ksatria dari setiap garuda ini membuat mereka menjadi tidak leluasa untuk mengeksplor setiap booth ormawa yang ada. Ksatria satu masuk paling pertama yang membuat mereka tentu langsung berhenti di booth paling depan, otomatis ksatria terakhir akan berada di booth paling belakang.
Salah satu mahasiswa baru mengaku cukup tertarik dengan BEM Universitas Airlangga. Namun, dirinya tidak sempat mengulik terlalu banyak karena posisi ksatrianya berada terlalu jauh dari booth BEM.
“Crowded banget kak, tadi kita lewat doang. Jadi akhirnya nggak sempat tanya ke BEM, tadi cuma lihat doang,” ucap salah satu mahasiswa baru dari Garuda 2.
Selain itu, mahasiswa baru merasa terlalu lama dibiarkan berpanas-panasan dan hanya diperbolehkan mengunjungi booth UMKM setelah menyelesaikan seluruh rangkaian Safari Ormawa.
Usai mengunjungi berbagai booth yang tersedia di sepanjang jalanan malioboro, mahasiswa baru diarahkan menuju Student Center untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya, yakni Display UKM. Setiap kloter yang berisikan dua garuda ini mulai memasuki area melalui gate in sejak pukul 07.00 WIB.
Di dalam Student Center, mahasiswa baru diajak menyaksikan penampilan beberapa UKM. Setelah itu, mereka diarahkan menuju lantai dua untuk mengunjungi berbagai UKM. Dari 46 sekretariat UKM yang tersedia di Student Center, setiap mahasiswa baru setidaknya harus mengunjungi lima UKM dari divisi yang berbeda untuk mendapatkan stempel sebagai salah satu syarat kelulusan Amerta.
Berbeda dengan alur mobilisasi di jalanan malioboro yang mendapatkan keluhan, alur dalam Student Center terlihat lancar dengan mobilisasi yang teratur jelas. Sejak awal, panitia Display UKM telah mengantisipasi hal ini dengan membentuk divisi rute untuk mengoordinir alur para maba. Panitia juga memberikan atensi khusus kepada para UKM dengan memastikan bahwa seluruh UKM harus didatangi oleh mahasiswa baru tanpa terkecuali. Hal ini dilakukan guna mencegah penumpukan mahasiswa baru di titik-titik tertentu yang berpotensi menghambat jalur mobilisasi.
Kendati mendapatkan apresiasi dari para mahasiswa baru terkait alur mobilisasi pada Display UKM, keluhan justru datang dari penjaga booth UKM. Salah satu permasalahan yang dikeluhkan adalah jalur masuk panitia disatukan dengan jalur mahasiswa baru, sehingga dapat mengganggu jalur mobilisasi mahasiswa baru.
Tidak hanya itu, para penjaga booth juga mengeluhkan tidak adanya pembagian rundown acara. Akibatnya, mereka harus bersiap siaga apabila sewaktu-waktu rombongan garuda datang untuk mengunjungi booth mereka. Bahkan, para penjaga booth baru mengetahui informasi terkait kedatangan mahasiswa baru dan jeda setiap kloternya usai bertanya kepada panitia terkait.
Lana, perwakilan dari salah satu ormawa menyebut bahwa tidak adanya rundown membuat mereka harus menebak-nebak alur acara, termasuk kapan waktu istirahat. Meski dari segi ruang lebih nyaman dibanding tahun sebelumnya, persebaran mahasiswa yang tidak merata menyebabkan beberapa booth tidak sempat didatangi, bahkan harus menghampiri langsung ke barisan depan untuk melakukan promosi.
Ketiadaan rundown yang dibagikan turut menambah kerumitan bagi UKM yang ramai menjadi incaran mahasiswa baru. Di samping harus selalu waspada akan kedatangan kloter baru, mereka juga kewalahan akibat kurangnya informasi terkait jam istirahat dan jam jeda antar kloter. Hasilnya, para penjaga tidak hanya dibuat kebingungan, tetapi juga kewalahan dengan mahasiswa baru yang terus berdatangan.
Meskipun diwarnai berbagai kendala teknis dalam pelaksanaan Display UKM Panca Tirta dan Safari Ormawa 2025, rangkaian kegiatan ini tetap memberikan manfaat yang berarti bagi mahasiswa baru. Mereka tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai kehidupan organisasi di kampus, tetapi juga kesempatan untuk mengenal lebih dekat UKM yang dapat mereka ikuti selama menjadi mahasiswa di Universitas Airlangga
Penulis : Adinda Putri Nirwasita, Putu Sridhani Dewika Putri
Editor: Hayuna Nisa
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua