» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Info Kampus
Keluar Masuk Kelas Sekarang Pakai Fingerprint
21 Januari 2020 | Info Kampus | Dibaca 519 kali
Presensi Fingerprint: Rekam data sidik jari Foto: dokumentasi pribadi/Muhammad Alfi Rachman
Mulai sekarang mahasiswa wajib presensi menggunakan fingerprint, baik itu ketika masuk maupun keluar kelas.

retorika.id - Ramai-ramai mahasiswa dalam dua hari ini datang memadati ruang akademik, Gedung A, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Para mahasiswa ini terlihat sedang sibuk melakukan perekaman data ulang sidik jari oleh staf akademik fakultas. Perekaman ini dilakukan oleh mahasiswa setelah mendapat edaran Dekan Fakultas Nomor:450/UN3.1.7/PK/2020, tentang pengwajiban mahasiswa aktif FISIP Universitas Airlangga untuk melakukan proses rekam data ulang sidik jari.

Salah satu mahasiswa yang sedang merekam data ulang sidik jari siang itu adalah Misbaghus Sururi (20). Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara ini berkomentar bahwa ia merasa biasa-biasa saja dengan kebijakan ini. “Biasa aja sih,” katanya di ruang akademik fakultas.

Sururi tidak ambil pusing terkait presensi menggunakan fingerprint. Meskipun banyak sekali kekhawatiran yang sedang ditakutkan oleh beberapa mahasiswa. Seperti adanya pengetatan perkuliahan dan pengontrolan kehadiran mahasiswa. Menurut Sururi, sikap mahasiswa itu kembali pada niat dan kepribadian mahasiswanya masing-masing. “Itu kembali pada mahasiswanya, niat kuliah atau niat bagaimana?,” katanya.

Hampir sama dengan Sururi, Aisyah Amira (18), Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini beranggapan bahwa ia setuju-setuju saja dengan kebijakan ini. Namun Aisyah masih mewanti-wanti dan sedikit pesimis dengan kebijakan ini, menurutnya apakah kebijakan ini juga mengakomodir mereka yang kerja part-timer. “Ini merugikan

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

mahasiswa yang bisa jadi mereka kerja part timer.”

Berbeda dengan keduanya, Elystavia (20), Mahasiswa Sosiologi ini beranggapan malah kebijakan presensi menggunakan fingerprint ini malah tidak efektif dan buang-buang waktu. Ketika mahasiswa hendak masuk kelas, tentu akan membuat antrian membludak dan tidak kondusif. Hal ini menurutnya malah buang-buang waktu. “Kan kadang-kadang mahasiswa itu datangnya gerudukan,” katanya.

Namun ia berujar juga ini berbeda kasusnya jika mesin fingerprint itu disediakan di banyak titik setiap kelas. “Keculai kalau Fakultas menyediakan mesin ini dibanyak titik, mungkin itu dapat mengurai ya.” Menurutnya kalau mesin itu disediakan hanya satu, atau bahkan hanya beberapa saja tidak disetiap kelas, maka akan mengular antrian hanya untuk presensi. “Ya harus belajar sabar kalau begini,” kata Elystavia.

Mahasiswa asal Gresik ini juga menyayangkan implementasi kebijakan yang menurutnya terlalu cepat. Kebijakan ini sangat minim sosialisasi dan terkesan terlalu mendadak. “Harusnya ini ada sosialisasi dulu ya dari tiap departemen.”

Elystavia juga kurang begitu yakin jika penggunaan fingerprint ini dapat digunakan untuk mencegah praktek Titip Absen (baca: titip presensi). Masih banyak cara lain yang lebih baik daripada menggunakan fingerprint. Karena menurutnya tidak bisa semata-mata fingerprint ini bisa menghapus praktek Titip Absen seperti ini. “Pencegahan praktek Titip Absen itu gak hanya dengan fingerprint begini, bisa dengan cara-cara lain. Seperti absen satu-satu. Atau memberi kepercayaan kepada mahasiswa, yaitu tidak dengan menggunakan fingerprint.”

Ditemui di ruangannya, Wakil Dekan I FISIP Prof. Dr. Mustain Mashud (60), menyatakan bahwa kebijakan presensi menggunakan fingerprint ini dilakukan untuk meningkatakan efisiensi dan efektivitas. Apalagi menurutnya di zaman teknologi seperti sekarang ini. “Kalau bisa memanfaatkan teknologi yang lebih fleksibel, lebih efisien, dan lebih praktis, kenapa tidak,” ujarnya.

Hal seperti ini menurutnya adalah hal yang biasa. Menilik daripada perkembangan awal cybercampus dulu, pria asal Tulungagung ini menyatakan bahwa dulu saat KRS-an, seluruh mahasiswa wajib datang ke kampus. Terus diubah ke sistem online, ternyata lebih efektif dan efisien. “Zaman saya dulu ketika mau KRS-an, harus dari ke Tulungagung dulu, baru ke Surabaya. Kalau sekarang kan tidak.”

Kebijakan ini tidak hanya berlaku untuk mahasiswa saja, Prof. Dr. Mustain juga menjelaskan bahwa kebijakan ini sama-sama diberlakukan baik itu untuk mahasiswa maupun untuk dosen. “Jadi seperti tadi, supaya lebih praktis, lebih efisien, lebih terkontrol dan dapat dipertanggung-jawabkan.”

Menjawab tudingan bahwa Lembaga Fakultas terlalu memaksa dan mengontrol mahasiswanya, Pria kelahiran Tulungagung ini berujar bahwa sejatinya presensi sendiri itu dimaksudkan untuk mengontrol. “Loh, absensi itu kan mengontrol. Itu sama saja, pakai konvensional manual ataupun pakai fingerprint, itu sama saja.”

Menurutnya, kebijakan ini malah dilakukan untuk mengajari mahasiswa agar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Apalagi menurutnya masih banyak orang, termasuk mahasiswa yang perlu untuk dikontrol. “Orang kita itu perlu dikontrol, contohnya saya. Jika tidak dikontrol, ya karepe dewe. Apalagi mahasiswa, masih belum punya tanggung-jawab penuh.

“Apalagi bagi mereka yang sering titip absen, tentu mereka akan marah-marah dengan ini. Karena dengan ini, mereka sudah tidak bisa lagi,” ujarnya menjelaskan memang masih ada di antara mahasiswa yang kurang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Kebijakan ini juga diperuntukkan bagi para dosen yang tidak menggunakan waktu mengajar dengan maksimal. Prof. Mustain menjelaskan bahwa, jika biasanya ada dosen yang mengajar hanya memanfaatkan waktu dan menyelesaikan tidak pada waktunya. Dengan kebijakan ini, diharapkan dosen juga menjadi lebih disiplin dan menghargai waktu. “Dosen yang harusnya 3 SKS itu dua jam setengah, baru setengah jam mengajar keluar. Lha dengan ini akan ketahuan.”

Tujuan dari program ini menurut Prof. Mustain adalah tujuan yang baik. Untuk meningkatkan disiplin dan meningkatkan etos belajar mahasiswa itu sendiri. “Tujuan kebijakan ini baik. Tidak hanya untuk mahasiswa, tapi untuk saya juga, untuk dosen-dosen lain, agar mengajar dengan baik.”

Penulis: Muhammad Alfi Rachman


TAG#dinamika-kampus  #fisip-unair  #  #