» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Sastra & Seni
Hilangnya Seno
15 Mei 2022 | Sastra & Seni | Dibaca 448 kali
Hilangnya Seno: - Foto: Sumber: Pixabay
Hilangnya Seno diduga buntut dari idealismenya menggulingkan pemerintah orde baru bersama rekan mahasiswa lain. Selama lima tahun ke belakang, kasus penculikan aktivis dan mahasiswa kritis tersebut memang santer dibicarakan dan menjadi momok terbesar yang menghantui banyak orang. Pada situasi sulit seperti ini hanya ada dua pilihan, berdiri membela kepentingan rakyat atau bersembunyi menjadi pengkhianat.

Retorika.id - Orang-orang mengetahui Seno melalui celana gombrongnya yang bau apak tiap kali melintas di koridor kampus. Sebagian lain, mengenal dari rambut ikal yang jarang disisir apalagi keramas kalau bukan pada malam pergantian tahun. Sedangkan, para gadis mengingat Seno sebagai mahasiswa FISIP yang jago berorasi dengan suara serak akibat terlalu sering menghisap kretek murahan yang dijual pinggir jalan.

Namun, semua itu berlaku dalam kurun waktu enam bulan yang lalu.

Kini, Seno sebatas nama pada jajaran poster orang hilang yang jarang digubris oleh aparat meski mulut kedua orangtuanya telah berbusa mencari keadilan.

Sosoknya yang dulu seliweran di perpustakaan sembari berkutat dengan buku-buku William Shakespeare atau menabung dosa untuk investasi ke neraka di tempat fotokopian  belakang kampus guna menggandakan buku Demokrasi Kita tak lagi tercium aroma tubuhnya.

Sebelum sosok itu raib bersama cap ‘musuh negara’ yang tersemat, sedikit informasi, Seno memang senang sekali bergerilya bersama teman-teman mahasiswa lain untuk memperjuangkan reformasi melalui gerakan bawah tanah.

Terakhir kali berinteraksi dengannya, aku melihat pemuda jangkung dengan pakaian yang sudah kusut seolah tak diganti tiga bulan itu tengah berdiri resah sambil celingak-celinguk memantau keadaan di depan kantor pos. Ia mengenakan topi baseball hitam dan pakaian bewarna senada. Kantung matanya kian menggelap. Apalagi rambutnya. Jangan ditanya. Sudah berapa koloni kutu yang bersarang di sana.

Sekejap saja, pemuda itu kupanggil.

Ia tampak terkejut melihatku, tetapi pada akhirnya, binar kecemasan di wajahnya sedikit memudar.

“Kenapa bisa ada di sini?”

“Aku mau mengirim surat untuk Bapak Ibu yang ada di rumah agar tidak merisaukan kondisiku, juga kepada Larasati. Dia berkali-kali didatangi intel. Mereka menanyakan dimana keberadaanku karena dugaan kasus provokator aksi mogok kerja buruh tani di Sawahan. Memang mereka semua asu.” Seno komat-kamit bersumpah serapah. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana muaknya pemuda

®iklan
®iklan

itu dengan rezim ini.

Aku sontak menawarkan bantuan. “Biar aku saja yang mengirimkan suratnya.”

Seno pun setuju. Ia mengangguk. Lantas, menyerahkan dua surat beramplop putih begitu saja kepadaku. Lalu, sebelum sosok itu menghilang ditelan kerumunan, ia sempat berbalik sekilas. “Kalau mau, datanglah diskusi kembali. Seperti biasa.”

Tidak ada kata lain yang bisa kuucapkan selain mengiakan. Lagipula, aku tahu markas mereka. Markas tersebut berada di sebuah kosan kumuh yang terletak di pinggiran kota 500 meter dari tempat prositusi. Motif para mahasiswa menyewa kosan tersebut tentu saja selain harganya yang ramah dikantong anak rantau, tetapi juga lokasinya yang mampu mengecoh para intel dan aparat. Tidak akan ada yang menyangka jika sepetak kamar kos rungsep nan nyaris roboh itu berisi sekumpulan mahasiswa yang mempunyai pemikiran gila untuk melengserkan seorang pemimpin diktator yang telah berkuasa selama lebih dari 30 tahun. Tidak akan ada  pula yang curiga jika buku-buku yang dianggap haram oleh  rezim bisa menghirup napas merdeka tanpa takut dibrendel.

Meski sejak lima tahun lalu marak terdengar kasus penculikan dan penghilangan paksa para aktivis serta mahasiswa kritis, tetapi hal tersebut tidak mempan menghentikan langkah para mahasiswa itu untuk membuat Indonesia lebih demokratis, katanya.

Begitu juga dengan Seno. Idealismenya tak semurah itu untuk ‘dibeli’ meski nyawanya sedang dipertaruhkan. Walau sudah  beberapa kali ‘digarap’ oleh aparat sehingga gigi depannya rontok dan hanya menyisakan gigi palsu lepas-pasang, semangat Seno justru kian menggelora.

“Aku yakin. Semakin suara kita dibungkam, semakin pula ada kebenaran yang terpendam.”

Maka, untuk itulah ia ada.

“Indonesia tidak bisa terus menerus berada di situasi seperti ini. Kita harus membuat sebuah gebrakan baru untuk mengembalikan pilar-pilar demokrasi yang sudah lama mati di tangan seorang pemimpin diktator. Bagaimana liciknya mereka membungkam suara rakyat. Kebebasan berpolitik yang nihil. Kebebasan berekspresi yang direpresi,” seru Seno kala itu di tengah diskusi.

“Kalaupun aku mati di tangan bangsaku sendiri, itu jauh lebih baik daripada anak cucuku masih merasakan penderitaan yang sama. Diam memang emas, tapi tidak berlaku jika kita sedang tertindas.” Kurang lebih, begitulah kalimat yang dia lontarkan di markas kami sembari menyeruput secangkir kopi.

Sebenarnya, aku heran dengan para mahasiswa itu. Maksudnya, teman-temanku.

Kuberi tahu, mereka itu hidup dalam kondisi tertekan karena menjadi musuh negara. Melawan pemerintah, maka dianggap sebagai musuh negara dan wajib hukumnya untuk ditangkap. Segala bentuk penyiksaan akan menanti jika kau tertangkap aparat. Sebab, para petinggi itu tak mengenal kata ‘kemanusiaan’. Selain itu, mereka juga harus hidup mengendap-endap dengan banyak idenitas ketika hendak menyuarakan suara kebenaran. 

Seno adalah salah satunya. Pemuda itu  tidak mengenal kapok. Ngeyel. Alih-alih fotonya mejeng di buku Yasin Tahlil, ia justru eksis di poster orang hilang yang masih dipertanyakan karena tak pernah menemui titik terang.

“Suara kebenaran tak kan pernah mati. Ia akan hidup berkali-kali. Dan, berlipat ganda di setiap generasi.”

Halah.

Toh, sekarang lihatlah nasib Seno yang tidak pernah diketahui batang hidungnya seolah lenyap ditelan bumi. Itupun kalau dia masih hidup. Kalau sudah mati, di mana makamnya? Jangan harap ada yang menemukan. Ia hanya menyisakan nama bagi keluarganya.

Tebakanku, dia dilempar hidup-hidup di kandang singa.

Atau paling tidak, disekap untuk mendapatkan penyiksaan sekaligus intrograsi tak ada habisnya hingga tewas lalu jasadnya dibuang sembarangan

Opsi kedua bagiku paling mendekati. Relevan.

Aku tidak asal tebak karena ada di sana pada saat Seno dieksekusi.

Dari kejauhan, aku menyaksikan bagaimana kepala pemuda itu tiba-tiba dibekap kain hitam sepulang dari wartel ketika menuju kosan. Ada lima orang pria berbadan kekar yang bersiap menghajarnya jika ia melawan ketika diseret masuk ke sebuah mobil hitam. Kemudian, mobil hitam itu melaju cepat membelah jalanan.

Dua hari kemudian, aku diam-diam menyelinap ke lokasi ia disekap. Aku tak melihat dirinya secara langsung memang. Tetapi, aku sempat mendengar jeritan Seno yang kesakitan diiringi bunyi sengatan listrik dari mesin setrum yang sengaja digunakan sebagai alat penyiksaan.

Hah. Aktivis kampus yang sok kritis itu kena getahnya juga karena mencoba melawan pemerintah.

Maaf, Seno. Bukannya tidak setia kawan. Meski ia adalah teman pertamaku di masa orientasi mahasiswa baru serta partner berdiskusi siang malam yang menyenangkan, hidup haruslah realistis saja.

Akan tetapi, setidaknya aku belajar satu hal darinya. Tidak semua hal di dunia ini harus selaras dengan idealisme.  Nyatanya, impian untuk mampu membebaskan Indonesia dari cengkraman pemimpin diktator beserta kroni-kroninya yang berkuasa selama lebih dari 30 tahun, hanya akan tetap menjadi angan-angan semata. Tidak lebih dari isapan jempol Seno belaka. Akhirnya, ia harus legowo disekap di sebuah tempat gelap beserta segala macam siksaan setiap harinya. Dan pelan-pelan ia dipaksa menelan kenyataan kejam bahwa di atas para petinggi itu, masih ada pemimpin yang mengendalikan semuanya di balik kursi kekuasaan.

“Malik.”

Tiba-tiba, sebuah suara berat diikuti tepukan lirih membuyarkan lamunanku mengenai kasus hilangnya Seno. Seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam berjalan menghampiriku dengan tatapan angkuh. Ketika di rumah, aku memanggilnya ‘Om’, tetapi jika di luar, semua orang akan tunduk dengan pangkat letnan kolonelnya.

“Farhan Aditya. Ketua umum organisasi Ikatan Mahasiswa Reformasi Indonesia.” Ia menyunggingkan seulas senyum culas. Seketika, aku menangkap maksudnya.

“Buat yang ini berapa, Om?” Aku balik menantang.

Tanpa banyak bicara, pria itu mengeluarkan secarik kertas serta bolpoin lalu menyodorkannya persis di hadapanku. “Tulis saja nominalnya di sana."

Ah, sial.

Kenapa susah sekali berhenti menjadi pengkhianat?

 

Penulis: Diana Febrian

Editor: Edsa Putri Ayu


TAG#cerpen  #demokrasi  #karya-sastra  #kisah