» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Sastra & Seni
Tanggal Tujuh Bulan Tujuh
17 Januari 2021 | Sastra & Seni | Dibaca 168 kali
Tanggal Tujuh Bulan Tujuh: sumber: Foto: Pinterest.cl
Hari ini tanggal tujuh bulan tujuh, hari ulang tahunku. Setiap tanggal ini, aku selalu melakukan kebiasaan rutin yang sering kusebut ritual, tetapi sepertinya tahun depan aku akan memulai ritual baru. 

retorika.id– Hari ini, tanggal tujuh bulan tujuh, hari lahirku. Aku duduk di teras depan rumah, sembarimenunggu dering dari telepon genggam di sebelahku. Sambil tersenyum, kunikmati teh hangat yang diseduh subuh tadi. Langit biru tanpa awan mulai nampak, mengganti gelapnya langit subuh.

“Hari yang indah,” pikirku. 

Setiap tahun selalu sama. Bagaikan ritual tahunan, aku selalu bangun subuh, mandi, menyeduh teh, duduk di teras rumah, dan menunggu dering telepon sambil tersenyum. Oh, tidak lupa juga aku memakai gaun putih bercorak bunga. Gaun tersebut sudah seperti seragam ulang tahunku.

Kring... kring... kring...

Akhirnya, dering yang kutunggu-tunggu terdengar. Kubiarkan waktu berlalu beberapa detik sebelum mengangkatnya. Aku tidak ingin sang penelpon tahu bahwa aku menunggu.

"Halo?" sapaku pelan.

"Halo! Selamat ulang tahun, Gendhis," kata lelaki di seberang sana.

"Terima kasih, Mas Galih," jawabku sambil tersipu malu.

Lalu, hening menyelimuti telepon kami. Aku menghitung detik sejak aku berterima kasih. Sudah 20 detik sekarang. Sepertinya ia hanya ingin mendengar deru napasku saja. 

"Mas Galih, nanti jadi, ‘kan?" tanyaku, berusaha memecah keheningan.

"Pasti jadi, Gendhis. Nanti Mas jemput jam tujuh, ya?"

"Kenapa bukan jam setengah tujuh seperti biasanya?" tanyaku tak sabaran. 

"Mas Galih harus mengurus sesuatu," katanya datar.

Hening datang kembali. Aku berharap, Mas Galih berbicara lebih banyak. Aku merindukan suaranya. Enam detik terbuang sia-sia hingga Mas Galih mengatakan sampai jumpa dan memutus sambungan telepon.

Aku mengernyit heran. Sambil menyesap teh yang hampir dingin, aku menggoyang-goyangkan kakiku dengan cepat. “Mengapa ritualnya berubah? Apa yang harus diurus?” pikirku dalam hati. Alisku hampir bertaut, tanda aku berpikir keras. Setelah selesai menyesap teh sampai habis, aku mengambil buku di sebelahku. Sebut saja buku ini adalah buku harianku. Aku menulis hal yang baru saja kulakukan dan keanehan yang terjadi tadi. 

***

Tanpa terasa, pukul tujuh datang juga. Mas Galih dengan mobilnya datang untuk menjemputku. Aku mengernyit untuk

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

yang kedua kalinya.

"Mas, kenapa enggak pake mobil yang biasanya?" tanyaku langsung, ketika melihat Mas Galih turun dari mobil. 

"Mobil yang biasanya di bengkel, Dis. Olinya habis," jawabnya sembari membukakan pintu untukku.

"Anomali kedua", pikirku sambil mengernyit. Kuambil buku harianku dan kutulis anomali yang baru saja terjadi. 

"Nulis kronologi, ya?"   

"Ini buku harian," jawabku sambil tersenyum menatapnya, walaupun sedikit bingung karena Mas Galih seperti paham akan kebiasaanku.

"Iya, tapi kamu nulisnya rinci banget. Biasa nulis kronologi kehidupan, ya?" guraunya sambil terkekeh.

"Oh, iya!" seru Mas Galih sambil menoleh ke belakang. "Ini buat kamu," kata Mas Galih sambil memberikan sebuket bunga untukku. Aku tertegun.

“Anomali ketiga," pikirku. Aku menerima dengan raut sumringah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menerima bunga dari Mas Galih. Kuhirup dalam-dalam bunga itu. Wangi adalah kata pertama yang terbesit di benakku.

"Terima kasih, Mas," kataku sambil tersipu malu, mungkin saat ini wajahku sudah semerah buah delima. "Ini bunga apa saja, Mas?" tanyaku penasaran.

"Itu bunga mawar kuning, lili oranye, dan marigold," jawabnya sambil tersenyum. Senyumnya berbeda dari senyum biasanya. Mungkin itu yang namanya senyum ketulusan. 

***

Mobil berjalan seperti biasanya. Menuju tempat biasanya, yaitu pemakaman umum. Sudah empat tahun lalu ritual ini berjalan. Kami akan melayat adik dari Mas Galih, kekasihku, Gilang. Selama perjalanan, Mas Galih tidak banyak bicara seperti biasanya. Aku? Kuputuskan untuk memikirkan segala keanehan yang ditunjukkan Mas Galih hari ini. Akankah segala anomali-anomali yang terjadi hari ini berujung pada sesuatu? Lama berpikir, aku tak sadar bahwa mobil sudah berhenti di tempat tujuan.

Aku turun dengan raut sedih, berusaha mengingat sosok yang aku kencani selama tiga bulan di masa lalu. Kami berjalan sembari membawa bunga untuk ditaburkan di makam Gilang. Makamnya berada di tengah pemakaman. Aku melangkahkan kaki dengan kepala menunduk, menatap bunga indah di dalam genggamanku. Mas Galih sudah berdiri tepat di sisi makam Gilang. Duduk dan mengelus nisannya. Aku memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Tanpa terasa, tanganku menyentuh tangan Mas Galih. Lama, sengaja tidak kulepaskan. Lalu Mas Galih melepaskan genggamanku sambil berdeham. Mas Galih memejam, mungkin berdoa. Aku juga memejam, ikut berdoa. Setelahnya, kutaburkan bunga di atas makam Gilang.

"Sudah empat tahun dan aku masih belum bisa mengikhlaskan," kata Mas Galih memecah hening.

"Sudah tahun ke empat, sebaiknya kita belajar mengikhlaskan," jawabku sambil melihat tatapan nanar yang terpancar dari matanya. 

"Aku tidak akan berhenti mencari pembunuhnya, Dis." Mata hitam legamnya menatap lurus ke arahku. 

"Sepertinya kita harus berhenti mencarinya, Mas. Sudah empat tahun. Polisi juga sudah menyerah," jawabku sambil menunduk, memainkan bunga di atas tanah.

"Aku tidak akan berhenti," jawabnya lirih, tetapi aku yakin, itu merupakan nada ketegasan.

***

Sebelum pulang, Mas Galih menyuruhku masuk ke mobil terlebih dahulu. Katanya, ada telepon penting yang harus diangkat oleh Mas Galih. Lima belas menit aku menunggu, akhirnya kami pulang dengan perasaan campur aduk. Sepanjang perjalanan pulang, mobil seperti tidak memiliki penumpang. Hening, bahkan radio atau musik pun tidak dinyalakan. Aku menatap mas Galih lamat-lamat. Aku tersenyum, melihat begitu dalam lesung pipinya, begitu lembut bibirnya, begitu indah matanya, begitu manis wajahnya. Melihatnya saja membuat jantungku berdegup kencang. Merasa diperhatikan, mas Galih menoleh dan bertanya mengapa aku melihatnya. Aku hanya menggeleng dan tersipu malu. 

Di sisa perjalanan, aku memilih untuk menulis hal-hal yang terjadi hari ini. Setelah dipikir-pikir, benar kata Mas Galih, ini terlihat seperti kronologi kehidupan. Aku menulis tentang kejadian di pemakaman, aku juga menulis tentang bunga yang diberikan Mas Galih. Aku menuliskan setiap jenis bunga yang ada di buket itu, aku hirup sekali lagi.

“Harum,” pikirku.

Lima menit lagi, mobil akan sampai di rumahku. Sambil menunggu, aku memainkan telepon genggam, berselancar di internet. Buket bunga yang ada di pahaku membuatku ingin mencari arti dari jenis bunga yang diberikan Mas Galih. Setelah internet menampilkan yang aku inginkan, tubuhku menegang. Tanganku gemetar hebat. Rasa panas dan dingin bercampur menjadi satu di tubuhku. 

Mobil sudah sampai di depan rumah. Rumahku yang biasanya sepi mendadak ramai. Ada mobil polisi di depan rumah. Aku menoleh ke arah Mas Galih, berusaha mencari penjelasan. Namun, Mas Galih hanya menatap ke depan, seakan sudah memahami keadaan. 

"Mas, apa ini maksudnya?!" tanyaku setengah berteriak, yang ditanya masih terdiam menghadap depan sembari memegang setir dengan erat.

"MAS GALIH, KENAPA DI INTERNET ARTI BUNGANYA PERPISAHAN, KEJAM, DAN KESEDIHAN?!?!" teriakku. Mungkin, jika berkaca, aku sudah seperti kesurupan. 

"MAS, JAWAB AKU!" teriakku sambil terisak. Aku benar-benar tidak ingin mempercayai semua ini. 

Tiba-tiba, ada yang mengetuk jendela mobil. Aku menoleh. Rupanya polisi. Aku kembali menoleh ke arah Mas Galih, menunggu penjelasan sambil mengguncang-guncang bahunya.

"Hanya psikopat yang menulis kronologi kehidupannya dengan rinci, Gendhis. Hanya psikopat yang menulis kronologi pembunuhan pacarnya secara rinci," kata Mas Galih lirih.

"Apa maksud Mas Galih?!" tanyaku setengah berteriak sambil memegang kerah bajunya. Di luar, polisi sudah menggedor-gedor mobil dan berusaha membuka secara paksa.

"Minggu lalu, aku menemukan tumpukan buku di bawah kasur yang ada di gudang rumah lamamu, isinya kronologi hidup seseorang. Ada juga kronologi pembunuhan manusia bernama Gilang," jawabnya lirih, seperti mengumpulkan tenaga.

"Aku tidak mengerti, Mas," jawabku membela diri. Air mataku mengalir dengan deras. Kakiku bergoyang-goyang dengan cepat, tanganku gemetar diiringi dengan bulu kuduk yang berdiri.

"JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU, DASAR PSIKOPAT! AKU SUDAH MEMBACA DENGAN JELAS BUKU HARIAN  MILIKMU ITU!" teriak Mas Galih sambil menatapku tajam. Matanya berkaca-kaca dan mulutnya bergetar. 

"Aku membaca dengan mataku sendiri kronologi pembunuhan yang kamu tulis di buku sampahmu itu. Saking tidak percayanya, aku sampai menyusun rencana hanya untuk melihat apakah tulisanmu sama dengan buku yang aku baca," katanya dengan suara yang tertahan. Ia berhenti sebentar untuk mengambil napas. "Mobil ini, lalu bunga itu. Semua kamu tulis di buku sialan itu dan tulisannya sama! Apakah ini kebetulan?" lanjutnya.

"Mas Galih," aku menangis dan berusaha memeluk Mas Galih, tetapi ditepis dengan keras. Di satu sisi, polisi berhasil membuka pintu mobil dengan paksa. Aku ditarik paksa keluar dari mobil. Aku berteriak dengan kencang, meronta-ronta ingin dilepas, memukul dan menginjak sekitarku agar aku lepas, tetapi sepertinya percuma. Mas Galih juga keluar dari mobil, berbincang dengan polisi sambil memberikan sebuah buku. Melihatnya, aku menangis dengan keras, berteriak, dan meronta.

"Gendhis, aku tidak menyangka tiga bulanmu bersama Gilang hanya kau gunakan sebagai alibi untuk bersamaku. Bahkan, kau membunuhnya! Cuih, Aku tidak akan pernah menemuimu lagi!" begitu kalimat terakhir Mas Galih yang ditujukan padaku. Aku tidak akan pernah melupakan wajahnya yang terlihat jijik melihatku. Aku dipaksa masuk ke mobil polisi dan dibawa ke kantor polisi. Buku harianku menjadi bukti yang akurat untuk menahanku di penjara.

Hari ini tanggal tujuh bulan tujuh, hari ulang tahunku. Setiap tanggal ini, aku selalu melakukan kebiasaan rutin yang sering kusebut ritual, tetapi sepertinya tahun depan aku akan memulai ritual baru. 

 

Penulis: Kadek Putri Maharani

Editor: Dien Mutia Nurul Fata

 


TAG#cerpen  #karya-sastra  #kisah  #romansa