» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Sastra & Seni
Kematian Senja
28 Januari 2019 | Sastra & Seni | Dibaca 824 kali
Kematian Senja: - Foto: Pixabay

retorika.id - "Calista, kamu dimana?" terdengar suara laki-laki dari ponsel milikku.

"Lagi naik KRL, perjalanan pulang. Kenapa?" balasku bertanya. Di ruang tempat dia meneleponku, banyak suara orang-orang bicara di sana. Aku pikir ia sedang ke terminal.

"Oh.. nggak, ngak kenapa-napa. Hati-hati ya," jawabnya yang kemudian dilanjutnya dengan menutup sambungan telepon.

Aku berpikir kalau ia pergi hari esok, apa yang ingin kusampaikan padanya. Kepergiannya untuk sementara bagiku bukanlah sementara, semenit pun jauh darinya yang di luar kota terasa setahun bagiku. Mungkin sistem cinta berjalannya seperti demikian. Stasiun demi stasiun dilewati kereta Commuter Line ini dengan cepat, aku hanya memandangi jendela di sisi kanan dan kiri. Lebih tertarik ke sebelah kiri, aku dapat melihat matahari mulai tenggelam dan membiaskan sinar warna oranye yang indah.

Dalam pikiranku mulai kembali menanamkan kepercayaan bahwa dunia itu berputar, siang berganti malam, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, cinta berganti cinta? Tidak. Kurasa yang terakhir tidak akan seperti itu, walaupun mungkin, Aku tidak ingin Bara seperti itu.

Pemberitahuan pemberhentian terakhir telah dikumandangkan. Kereta ini akan sampai di stasiun terakhir. Tapi aku mulai merasa khawatir, aku tidak cukup siap menghadapi

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

kenyataan setelah turun dari gerbong kereta ini. Firasat apa ini? Aku mulai merasa gelisah, badan mulai berkeringat dingin.

Kupercepat langkahku berjalan keluar dari peron, aku merasakan firasat tidak enak. Kali ini pasti ada yang tidak beres. Mungkin ini karena Bara menelepon tadi. Ini tentang keberadaan dia.

Aku memesan ojek online dan langsung bergegas pulang ke rumah. Sesampainya, matahari telah sepenuhnya tenggelam, rumahku terselimut kegelapan, lampu depan rumah belum dinyalakan ternyata. Ibu belum juga pulang.

Biasanya saat aku pulang bekerja, ibu menyambutku secara halus dengan wangi masakan makan malam, baru lah ia muncul dengan ucapan “Selamat Datang”-nya yang ceria.

Lampu-lampu rumah kunyalakan. Ruang tamu, dapur kubersihkan, seusai membereskan bagian rumahku, aku membersihkan diri, barulah aku akan memasak makanan untuk ibu. Dia pasti terjebak kemacetan.

Menu makan malam ini adalah kangkung cah ayam dan telur dadar goreng. Semua kupersiapkan demi menyambut ibu. Kalau Bara menjadi suamiku, kuyakinkan bahwa masakanku akan menjadi yang terbaik kedua setelah masakan ibunya. Kubereskan dapur setelah memasak, piring, wajan, sodet, dan sampah dapur lainnya.

Aku telah menyajikan semuanya di meja makan. Handphone kuraih, kemudian kutelepon ibu. Dia tidak mengangkat, nomornya sedang tidak aktif. Mungkin saja baterainya habis.

Menunggu 5 menit sambil membuka media sosial membuatku lapar. Mumpung makanan masih hangat segeralah kusantap duluan. Ibu akan menyusul nanti.

Tak kusangka makananku bisa seenak ini, atau mungkin karena aku yang memasak jadi pendapat rasanya sangat subjektif? Bisa jadi, tapi aku menikmatinya. Aku ingin mengundang Bara datang kemari agar aku tidak kesepian, tapi teleponnya juga tidak diangkatnya. Kenapa ibu dan Bara kompak tidak mengangkat? Apa ada kejutan untukku? Semoga saja! Aku sangat antusias untuk pura-pura tidak tahu.

Suara ketukan pintu rumah terdengar, "Calista?" Aku menoleh ke arah sumber suara. Orang di luar sana adalah suara ibu! Aku bangun dari kursi dan segera berjalan cepat membuka pintu. Pintu itu terus mengetuk, tapi tiba-tiba suara ibu berubah menjadi suara temanku, Zarah. Aku mulai ragu membuka pintu itu, kenapa dia yang datang?

Detak jantungku berdetak kencang, tanganku bergetar meraih gagang pintu. Ada pikiran aneh yang masuk menggangguku tiba-tiba. Kubuka pintu rumah, "Calista? Lo lagi ngapain?" Ternyata benar, itu Zarah. Aku mematung di depannya, menatap Zarah.

"Lagi nunggu.. Ibu" jawabku dengan terbata-bata. Keanehan baru saja datang di pikiranku.

Zarah yang di depanku matanya mulai berkaca-kaca mendengar kalimatku. Aneh, kemudian ia memelukku. Di pelukannya ia membisiki telinga kananku dengan perlahan "Lo nggak inget sebulan lalu? Ibu udah gak ada, Ta."

Ingatanku kembali pada waktu sebulan lalu, di mana suara ketukan pintu itu adalah tetangga yang memberitahu bahwa ibu tewas kecelakaan. Kenapa aku baru sadar?

Air mataku keluar deras membasahi pipi. Aku tidak bersuara selain suara hatiku yang bergejolak ini. "Lalu Bara?" tanyaku kembali, entah kenapa nama Bara kutanyakan juga.

"Dia juga sama," Zarah mengusap punggungku. Aku teringat lagi bahwa Bara juga telah pergi, selama-lamanya dalam kecelakaan. Mobilnya terguling di jalan tol saat menuju kota perantauannya Semarang.

Tangisanku semakin menjadi, aku seperti mengigau menanti seseorang pulang, tetapi nyatanya mereka pulang ke tempat yang lain untuk selamanya.

Lalu siapa yang kuajak bicara saat di kereta tadi?

Teringat lagi, bahwa aku sadar sering mengalami delusi saat menjelang malam. Matahari terbenam, menyisakan semburat oranye. Masih mengingatkanku akan kematian dua orang penting dalam hidupku. Aku masih belum sepenuhnya menerima kenyataan. Bagiku senja bukan harapan, tapi kematian.

Zarah masih memelukku dengan erat. Ia sahabat yang masih kumiliki, kuharap pelukan ini bukanlah delusi, bukan gaib semata dari apa yang kuinginkan. Aku mencoba sadar diri lagi, syukurlah, Zarah masih benar ada memelukku sekarang.

 

Penulis : Faiz Zaki


TAG#cerpen  #karya-sastra  #romansa  #