» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 081281600703.

Opini
Sikap Patriotisme yang Momental
23 Februari 2019 | Opini | Dibaca 593 kali
Cara Lain Agar Menjadi Patriotis: Patriotisme Setiap Saat Foto: Wow Keren

retorika.id - “Merdeka! Merdeka! Merdeka! Hidup atau Mati!” Teriakan tersebut kerap kita dengarkan kala sebuah acara instansi, badan, lembaga, sampai komunitas kecil yang sedang menyelenggarakan acara bertemakan semangat nasionalisme. Kalau kata guru sejarah dan para orangtua, itu adalah teriakan yang dahulu juga dilantangkan keras di depan para penjajah negeri ini.

Ingat, Indonesia mempunyai banyak hari-hari besar nasional di kalender. Setiap tanggal mewakili peristiwa-peristiwa penting sejarah bangsa ini. “Merdeka! Merdeka! Merdeka! Hidup atau Mati!” diteriakan dengan lantang ketika acara tersebut begitu menghayati perjuangan para pahlawan di masa lalu. Apa lagi moment-nya berbarengan dengan tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia, 17 Agustus.

Pendiri bangsa Indonesia, yang akrab disapa Bung Karno, pernah mengatakan “Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah)”, tidak heran mengapa beliau begitu panjang berpikirnya untuk mengingatkan anak cucu bangsa ini sebagai penerusnya agar tidak ‘buta’ dengan sejarah

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

perjuangan bangsanya sendiri.

Bicara soal sejarah, ilmu ini secara umum mengajarkan bagaimana kita mempelajari suatu peristiwa di masa lampau yang berkaitan ruang dan waktunya, agar kita mendapatkan sesuatu hal baru atau memperbaiki sesuatu yang di masa lampaunya dianggap kurang baik di zaman sekarang.

Mengingat kemerdekaan suatu bangsa bermula dari nasionalisme penduduknya yang berjiwa patriotis. Dari rasa patriotisme itulah terbentuknya nasionalisme. Sebenarnya tidak jauh beda antara patriotisme dan nasionalisme, yang intinya adalah rasa sama memiliki untuk menjaga bangsanya.

Hari besar nasional biasanya dijadikan momen yang sangat tepat untuk kembali merefkelsikan makna dari sebuah nasionalisme dan jiwa patriotisme seseorang terhadap bangsanya. Misalkan, 28 Oktober diperingati Hari Sumpah Pemuda, 10 November diperingati Hari Pahlawan, 1 September diperingati kesaktian Pancasila,dll. Kita memperingati akan seluruh perjuangan pahlawan bangsa yang telah mendahului.

Menyinggung soal patriotisme masa kini, tentu dengan selalu bertanggung jawab atas keseimbangan di masyarakat agar terciptanya keamanan. Namun, apakah sebenarnya rasa patriotisme perlu diingatkan kembali setiap waktu?

Tentu tidak jika hanya sekedar formalitas saja di balik perayaan hari-hari besar. Semenjak Indonesia merdeka sampai sekarang pun sikap patriotisme ditanamkan melalui keluarga dan sekolah-sekolah. Tetapi jika rasa nasionalisme itu ditunjukkan melalui media sosial dan kemudian dihujat seseorang dan membalasnya dengan lebih kejam, apakah pantas?

Karena, lucunya individu tersebut yang mengajak, ketika dicaci maki malah lebih kejam membalas perkataan orang lain. Itu salah satu contohnya, jadi apa yang ia katakan tidak sesuai dengan sikap aslinya.

Kemudian sekarang bicara soal mengorbankan, membuat suatu hal untuk bangsa Indonesia khususnya. Apa saja yang sudah kita lakukan? Membayar pajak? Semua orang juga tahu.

Apakah yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini? Perjuangan seperti apakah yang sudah kita lakukan? Atau rasa patriotis apa yang sudah kita lakukan kepada orang lain?

Pertanyaan sederhana namun cukup sulit menjawabnya, jika sampai detik ini kita pun masih tertidur pulas di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa. Tidak usah jauh-jauh, membela kebenaran pun sudah contoh kecil patriotis. Tidak meminta ‘damai’ ketika ditilang polisi, tidak perlu banyak menuntut negeri ini terlalu kejam hingga membuat rakyatnya miskin.

Negara sehebat apa pun, secanggih apapun teknologinya, tidak akan seperti itu kalau rakyatnya hanya menunggu, menunggu hal yang tidak pasti dan tidak terpikir dari pola pikirnya untuk berubah dan maju.

Kita sebagai warga negara yang baik, alangkah baiknya menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab dan lebih dipandang dunia, dengan cara sebaik mungkin melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk menjadikan bangsa ini lebih beradab. Tidak perlu merefleksikan makna patriotisme setiap tanggal penting bagi bangsa Indonesia, tetapi setiap waktu, setiap saat, kapan pun dan dimana pun saudara berada.

Siapa sangka obrolan di warung kopi pun bisa menjadikan kita kembali kuat memaknai patriotisme dengan diskusi kecil untuk melatih intelektualitas dan pengembangan diri kita.

 

Penulis : Faiz Zaki


TAG#sejarah  #sosial  #  #