» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Angkat Mosi RUU Penyiaran, Panitia UFO Justru Batasi Pers Mahasiswa Meliput?
08 Agustus 2025 | Liputan Khusus | Dibaca 427 kali
Angkat Mosi RUU Penyiaran, Panitia UFO Justru Batasi Pers Mahasiswa Meliput?: - Foto: Dokumentasi Pribadi
Simulasi demonstrasi menjadi salah satu agenda yang paling penting dalam kegiatan United FISIP Orientation (UFO). Mosi yang dibawakan tahun ini adalah mengenai RUU Penyiaran. Namun, terdapat pembatasan untuk semua pihak kecuali panitia UFO untuk mengambil gambar dan video saat berjalannya simulasi yang dimana hal ini kontradiktif dengan mosi yang disuarakan.

Retorika.id - Ratusan mahasiswa baru FISIP UNAIR mengikuti simulasi demonstrasi sebagai puncak dari kegiatan United FISIP Orientation (UFO) pada Jumat (08/08/2025). Acara tahunan ini menjadi salah satu agenda wajib yang paling dinanti dengan tujuan mengenalkan budaya kritis dan aktivisme mahasiswa.

Tahun ini, simulasi demo mengangkat mosi yang kontroversial yaitu Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran. Mosi ini dipilih karena RUU tersebut telah memicu banyak protes lantaran dianggap mengancam kebebasan pers dan berpotensi membatasi hak masyarakat sipil dalam berekspresi dan mendapatkan informasi.

Namun, di tengah simulasi demonstrasi yang mengusung isu kebebasan pers, sebuah ironi muncul. Panitia UFO membatasi semua pihak, termasuk pers


mahasiswa, untuk mendokumentasikan jalannya acara simulasi demonstrasi secara bebas. Pengambilan gambar dan video hanya diperbolehkan pada waktu-waktu tertentu yang telah ditentukan.  

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang besar. Bagaimana panitia UFO dapat mengangkat isu RUU Penyiaran sebagai mosi utama, namun di saat yang sama justru membatasi semua pihak, termasuk pers mahasiswa? Pembatasan ini seolah-olah kontradiktif dengan pesan yang ingin disampaikan oleh simulasi itu sendiri, yaitu pentingnya kebebasan dalam menyuarakan pendapat dan mengakses informasi.

Menanggapi hal tersebut, salah satu panitia UFO menjelaskan bahwa kebijakan pembatasan dokumentasi ini sebenarnya sudah ditetapkan dari tahun ke tahun. “Sebenarnya tidak apa-apa mendokumentasikan demo ini karena dari medkre (media kreatif) sendiri juga memvideo, cuma concern-nya itu adalah kita nggak tahu ketika video itu dipublikasikan oleh pihak lain, takutnya malah disalahartikan. Padahal, setiap adegan yang dilakukan di UFO ini memiliki pelajarannya masing-masing. Kita gak mau adegan-adegan tersebut diambil di luar konteks. Jadi kita mengantisipasi misinformasi atau mispersepsi terhadap konten yang disuguhkan,” terang A. 

Senada dengan tanggapan panitia A, panitia B juga menjelaskan ketakutan penggiringan opini yang buruk ketika pihak lain mengunggah gambar atau video simulasi demonstrasi secara bebas sebelum pihak UFO yang mengunggah. “Karena yang kena nanti bukan hanya kita tetapi juga mahasiswa baru. Kasihan mahasiswa baru menjadi korban penggiringan opini yang bisa jadi akan merugikan mereka,” ungkap B.  Ia juga mengatakan tidak ada instruksi khusus dari pihak fakultas maupun universitas, dan penggalakan aturan tersebut murni untuk melindungi mahasiswa dan nama baik fakultas. 

Terlepas dari niat baik panitia, kebijakan pembatasan ini tetap menjadi sorotan bagi pers mahasiswa. Simulasi yang bertujuan mengenalkan budaya kritis dan pentingnya kebebasan  justru dihadapkan pada realita pembatasan. Hal ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana nilai-nilai kebebasan berekspresi yang disuarakan, seharusnya diuji oleh pertimbangan praktis dan keamanan dalam sebuah acara. 

 

Penulis: Dara Nabilah Salsabila dan Nasywa Nabila Isnandar

Editor: Vlea Viorell Indie Princessiella

 


TAG#dinamika-kampus  #fisip-unair  #sosial  #universitas-airlangga