» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Info Kampus
Kata Mahasiswa dan Dosen IIP Terkait UAS Daring
26 Juni 2020 | Info Kampus | Dibaca 83 kali
Kata Mahasiswa dan Dosen IIP Terkait UAS Daring: sumber: Foto: unsplash.com
Untuk pertama kalinya, UAS (Ujian Akhir Semester) daring Universitas Airlangga dilakukan secara penuh dengan basis internet. Tentu hal tersebut mengundang penilaian baik dari mahasiswa maupun dosen terkait kelemahan maupun kelebihannya.

retorika.id - Ujian Akhir Semester (UAS) genap FISIP sepenuhnya dilaksanakan secara online. UAS daring yang dilaksanakan dari pertengahan Juni ini diadakan untuk yang pertama kali, sekaligus masih dalam uji coba untuk keberlajutannya. Hal ini dikarenakan faktor pandemi yang belum usai. Namun, apabila UAS daring ini dapat efektif dan lulus evaluasi maka universitas akan menerapkannya untuk ujian selanjutnya, serta pada kondisi yang diperlukan.

“UAS daring ini sudah dilakukan uji coba sebelum dilaksanakan di hari awal UAS. Bahkan, sebelum perkuliahan online dilaksanakan, para dosen dan tendik (tenaga pendidik) atau staff juga sudah di training untuk mencoba Aula dan Zoom. Evaluasi UAS daring Ini juga menjadi acuan untuk diberlakukannya UAS daring di semester depan,” ucap Hendro Margono, selaku kapten UAS daring Prodi Ilmu Informasi Perpustakaan (IIP).

Selama pandemi ini, web Aula Unair menjadi media utama penyalur informasi terkait UAS untuk mahasiswa. Sedangkan media lainnya seperti E-mail, Line, Youtube, Google Drive, dan  WhatsApp digunakan untuk pengunggahan tugas take home sekaligus sebagai opsi lain jika Aula mengalami kendala darurat.

UAS daring ini tentu mendapat respon, baik dari segi kelemahan maupun keuntungan bagi mahasiswa. Menurut Alim, mahasiswi jurusan ilmu politik, UAS daring ini memiliki beberapa kelemahan, “Kendala pribadi saya, seperti suka ketinggalan informasi, tiba-tiba deadline sudah mepet. Kalau yang dirasakan teman-teman itu sewaktu submit di Aula dan link buat submitnya ga bisa diakses. Akhirnya, jadi khawatir misal telat dan nggak diterima. Selebihnya hanya pemakluman.” tulisnya saat diwawancari melalui chat pribadi.  

Menurut Alim, meski sistemnya terkesan sama seperti ujian tatap muka (offline), namun ujian daring ini memiliki banyak tuntutan, “Misal nulis 2.500 kata di turnitin dan deadline

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

yang sangat mepet. Semua itu sangat menguras waktu, tenaga, pikiran dan kuota internet tentunya,” jelas Alim.

Selain itu, faktor eksternal seperti listrik padam dan jaringan internet  yang  kurang lancar menyebabkan terganggunya waktu ujian. Mengingat Unair juga telah memberikan subsidi kuota, hal itu pun belum menjamin kelancaran UAS daring.

Kaya aku nih, yang dikasih subsidi pulsa telkomsel Rp 60.000, tapi tiba-tiba paketan yang bisa ditukar udah nggak ada. Kalau di bawahnya ya bisa saja, tapi ya terpakainya bisa habis duluan sebelum UAS berakhir,” ujar ST, mahasiswi Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) yang tidak mau diketahui nama aslinya.

Namun, ST mengaku, dirinya tidak mengeluh soal jaringan internet. “Aku untungya nggak mengalami kendala jaringan atau lampu mati, tapi temenku ada yang sampai harus ke sawah-sawah demi dapet sinyal, ada juga yang lampunya mati ditengah-tengah ujian,” tambahnya.

ST yang juga menjabat sebagai ketua kelas di salah satu mata kuliah di jurusannya, memiliki kewajiban untuk terus memantau pelaksanaan ujian. Menurutnya, tugas ini sangat ribet apalagi jika ada kendala atau keluhan dari teman-temannya.

“Mahasiswa yang kebingungan mengirimkan tugasnya, bertanya soal UAS dan kendalanya, ujung-ujungnya, ketua kelas harus turun tangan, dari awal ujian sampai selesai. Bagian paling membingungkan adalah saat bertanya pada dosen. Berkirim pesan lewat chat dengan dosen itu kadang bikin ambigu. Ketika dosen bermaksud A, saya punya banyak asumsi tentang pesan beliau. Kesannya beda dari bicara langsung. Jadi, timbul kesalahpahaman,” ucap ST.

Namun, kendala UAS tidak sepenuhnya menjadi pengalaman buruk. Kendala tersebut tergantung bagaimana mahasiswa menyikapinya. Bagi Putri, yang juga merupakan mahasiswi IIP menganggap, UAS daring ada keuntungnya dan kesempatan bagi mereka yang bisa melihat materi saat ujian.

Keuntungan lainnya juga dapat ditinjau dari sisi eksternal, seperti penghematan biaya transportasi dan biaya makan bagi mahasiswa. “Mahasiswa yang sudah pulang kampung, ga usah pusing soal biaya transpor dan uang buat makan,” Ujar ST.

Dari tanggapan mahasiswa di atas, beberapa diantaranya juga disetujui oleh Kapten IIP Hendro Margono, seperti keluhan lampu padam, server tidak merespon serta kelebihannya yang menghemat biaya. Namun, keluhan itu harus disertai bukti, karena sistem UAS daring memiliki record dari aktivitas mahasiswa saat mengerjakan UAS. Hal ini, karena mahasiswa ada yang tidak memperhatikan tata tertib UAS dan menggunakan alasan kendala atas kesalahannya sendiri.

“Saya maklumi, kemarin itu ada yang mengeluh terus segera memberitahukan pada penjaga UAS, tapi kami disini tidak bisa dibohongi. Kendala yang dialami harus disertai bukti dengan difoto lalu kirim. Kami punya record nya dan cek apakah benar-benar kendala itu terjadi atau disengaja karena alasan diluar tata tertib UAS,” ujar Hendro.

Pasalnya, fakultas telah memberikan tata terib ujian yang sudah tercantum di mata kuliah Aula sebelum memasuki ujian. Tertulis bahwa himbauan untuk memastikan jaringan internet lancar dan harus datang mengerjakan ujian di Aula tepat waktu atau keterlambatan 20 menit. Maka diluar dari tindakan itu, sebenarnya adalah kesalahan dari mahasiswa itu sendiri.

Harapannya, mahasiswa juga berusaha untuk mendapatkan jaringan internet dan tanggung jawab layaknya ujian offline, seperti datang tepat waktu dan tidak menyontek.“Kendala memang ada, tapi saya yakin UAS daring ini sebenarnya dapat berjalan lancar apabila mahasiswanya juga bertanggung jawab dan mau berusaha. Saya juga tahu yang alasan terlambat masuk itu karena mereka mengerjakan bersama-sama dulu sebelum masuk ujian. Alhasil mereka terlambat dan akhirnya lapor. Namun, kami akan tetap merespon itu dan memberi mereka peringatan,” jelas Hendro. Meskipun kendala yang dirasakan Hendro mungkin berbeda dengan dosen yang lain, tetapi secara garis besar kendalanya adalah dari mahasiswa itu sendiri.

Selain masalah pada UAS daring, Hendro juga berpesan supaya mahasiswa tidak hanya menunggu materi dari dosen saja, tetapi berusaha untuk banyak membaca apapun terutama yang berkaitan dengan mata kuliah. Sehingga, tidak ada keluhan seperti tidak bisa memahami materi saat kuliah daring.

“Mahasiswa itu beda dari anak SMP, SMA yang  bukan jamannya lagi menunggu PPT dosen dan  menunggu diterangkan. Kuliah daring dan ujian daring ini layaknya kuliah di luar negeri. Sistem mereka seperti ini. Bahkan, biaya kuliah mereka jauh lebih mahal, tetapi mahasiswanya dituntut aktif dan mandiri, dosen hanya sebagai guidance saja. Mereka juga berusaha mencari jaringan internet seperti ke perpustakaan atau ke kafe-kafe. Memang tidak bisa disamakan perkuliahan di Indonesia dengan luar negeri, tetapi kalau pengen maju, mereka harus mencontoh supaya memiliki rasa tanggung  jawab atas dirinya sebagai mahasiswa. Hal yang utama adalah perbanyak membaca. Sebelum kuliah, baca materi yang sudah dijelaskan di kontrak. Sehingga, nanti bisa ditanyakan atau lebih paham dengan materi yang disampaikan. Kalau mahasiswa aktif seperti itu, waktu kuliah pun bisa sangat cepat dan cara menjawab soal UAS akan terlihat beda,” tambah Hendro di akhir penjelasannya.

Secara keseluruhan, UAS daring perdana ini memiliki banyak alasan mengenai kelemahan dan kelebihannya. Namun, keuntungan dari UAS daring akan lebih dirasakan apabila mahasiswa juga turut berusaha dan mematuhi tata tertib ujian. Sementara itu, kelemahan yang ada pada UAS daring masih akan dievaluasi untuk menekan faktor-faktor penyebabnya oleh universitas. Baik mahasiswa, dosen, dan tendik harus mengecek kesiapan ujian dan solusi saat menghadapi kendala. Segala perkara baik permulaannya memang tidak dapat berjalan mulus. Perlu adanya saling sinergi untuk mewujudkan kenyamanan bersama.

 

Penulis: Kezia Putri B


TAG#akademik  #dinamika-kampus  #pendidikan  #