
Di zaman ketika musik kerap dijadikan pelarian dari kenyataan, Baskara Putra justru menyalak ke arah sebaliknya. Ketika banyak musisi memilih bungkam agar tetap ‘aman’, Baskara menunjukkan bahwa keberanian justru bisa menjadi komoditas paling langka dan paling penting di industri ini.
Retorika.id - Di tengah kebisingan industri musik yang kerap menjual kisah romansa yang repetitif dan kata mutiara berisi semesta, Baskara Putra mencuat sebagai figur yang menggugat. Tidak sekadar bernyanyi, dia juga menyampaikan pesan melalui lagunya. Bermula dari pentas kecil di lingkungan FISIP Kampus Depok, Baskara menapaki panggung sebagai vokalis band .Feast, sebuah proyek musikal yang dibentuk di kisaran 2013 oleh sekumpulan mahasiswa FISIP yang menolak bungkam atas kegaduhan negeri. Pada 2019, dia menyalakan obor baru lewat proyek solonya dengan mononim Hindia. Bukan untuk meninggalkan .Feast, tetapi untuk memperluas cakrawala eksplorasi tarik suaranya.
Dua dunia ini–baik .Feast maupun Hindia–berjalan berdampingan. Keduanya mengusung kesamaan berupa musik yang dipenuhi kejujuran tentang hidup dan kemarahan atas riuh kecacatan tatanan sosial-politik yang ada. Melalui .Feast, Baskara sebagai vokalis dan penulis lagu banyak bersuara lantang tentang negara dan isu sosial di masyarakat. Sebaliknya, melalui Hindia dia bertutur lirih–kadang meluap penuh amarah–untuk merefleksikan tentang kekosongan dan keretakan di dalam diri. Dalam dunia musik yang sering kali bermain aman, Baskara justru memilih menjadi cermin yang memantulkan keresahan diri yang terasa menjadi keresahan kolektif.
Berangkat dari Keresahan
Baskara memiliki latar belakang akademis sebagai mahasiswa FISIP, sebuah fakultas yang sering diasosiasikan dengan gerakan dan gagasan. Dia bukan musisi yang lahir dari ajang pencarian bakat atau panggung hiburan semata, melainkan dari ruang
kelas dan ruang diskusi abang-abangan kampus yang membahas demokrasi, ideologi, dan kekuasaan politik. Ketika banyak lulusan FISIP memilih jalan korporat maupun birokrat yang kerap membungkam idealisme demi stabilitas gaji bulanan, Baskara memilih sebaliknya: menyambung hidup dengan menyuarakan kesedihannya.
Dia bisa saja memilih jalur aman sebab selepas lulus, dia bersama personil .Feast sempat bekerja di sektor formal masing-masing. Namun, mereka tetap aktif nge-band dengan membawa senandung nada-nada amarah penuh pesan. Ketika jamaknya musisi menulis lagu-lagu cinta yang manis untuk mengiringi iklan cemilan dan minuman ringan, Dia mengambil arah yang sama sekali berbeda. Baskara bersama .Feast–dan kemudian Hindia yang mengangkat tema realita kehidupan–justru menempuh jalan yang lain dari biasanya: menjadikan musik sebagai ruang kontestasi ide dan pengakuan atas luka.
Namun, hal yang perlu diingat adalah bahwa Baskara tidak berhenti pada permenungan pribadi. Mulanya .Feast menggebrak belantika musik pada medio 2018 ketika lagu “Peradaban” merambah ke pendengar awam dan mulai mengarusutamakan nama .Feast. Melalui .Feast, Baksara Putra menggedor ruang publik dengan kritik pedas terhadap kekuasaan. Album “Abdi Lara Insani” (2022) misalnya, dia tidak ragu mereka menyeret institusi negara, aparat, bahkan warga yang apatis ke dalam pusaran kritik. Lagu seperti dan “Gugatan Rakyat Semesta” dan “Bintang Massa Aksi” adalah jeritan peringatan terhadap generasi yang tak lagi mengenal semangat demokrasi dan HAM.
Hidup Ada Artinya?
Album “Lagipula Hidup Akan Berakhir” (2023) adalah manifestasi dari kegundahan seorang manusia yang sadar betapa rapuh dan fananya hidup. Lewat lagu-lagu seperti “Janji Palsu”, “Cincin”, dan “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya”, Baskara merumuskan ulang pertanyaan yang sering dielakkan: "Untuk apa, sih, hidup ini?" Dia dengan jujur dan blak-blakan mengajak pendengarnya untuk merefleksikan makna dari sukses, mengejar karir, serta penggandrungan cinta yang kadang digambarkan secara berlebihan tanpa melihat kembali sisi menarik dalam kegilaannya.
Tak kalah mendalam, album pertamanya yang berjudul “Menari dengan Bayangan” (2019) memuat lagu seperti “Evaluasi” dan “Rumah ke Rumah” yang menyayat. Bukan karena dramatis, melainkan karena jujur dan apa adanya. Hal ini merupakan sesuatu yang kerap diabaikan oleh penulis lagu yang kerap menggunakan majas berlebihan. Dalam lagu-lagunya, Baskara tidak menawarkan solusi instan atas luka batin, tapi mengafirmasi bahwa keretakan batin bukan untuk disembuhkan, melainkan untuk diakui keberadaannya. Selain itu, dia juga mengungkapkan bahwa cinta bukan tentang euforia, melainkan pertemuan antara harapan dan kenyataan yang kerap tidak sepaham.
Dia tidak memanipulasi emosi. Sebaliknya, dia menyampaikannya sejujur-jujurnya. Lirik-liriknya terasa personal. Dan justru karena itu, para pendengar merasa bahwa lagu-lagunya terasa "gue banget". Popularitas yang diraih bukan karena sensasi, melainkan karena keberanian untuk jujur. Di tengah dunia yang memaksa orang pura-pura bahagia, Baskara hadir untuk mengatakan bahwa tidak apa-apa tidak baik-baik saja.
Bukan hanya di dalam negeri, dalam proyek Hindia, khususnya dalam mixtape “Doves, ‘25 on Black Canvas” (2025), Baskara menunjukkan keberpihakan yang tegas. Dia tidak ragu mengkritik semangat anti-demokrasi rezim Prabowo dan dengan berani menyatakan solidaritas untuk Aksi Kamisan serta melalui konsernya dukungan untuk warga Gaza, Palestina, yang didera genosida. Karyanya membuktikan bahwa musik bisa menjadi bentuk keberanian politik. Bukan hanya untuk bersuara, tapi untuk memikat hati bahwa masih ada harapan yang layak untuk diperjuangkan.
Namun, di balik semua ini Baskara tetap manusia. Dia bukan nabi, bukan juga juru selamat. Dia juga mengenal lelah, ragu, dan geram. Justru di sanalah letak sisi manusia untuk dia bangun dalam semangat kamanusiaannya. Dia tidak menjadikan panggung sebagai menara gading. Dia naik untuk menyuarakan yang perlu disuarakan lalu turun kembali menjadi manusia. Sekadar manusia yang juga merasakan getirnya hidup dan realita sosial.
In this economy yang memuja kenyamanan dan menertawakan perlawanan atas penindasan struktural, Baskara memilih untuk tetap melawan dalam suaranya. Dia tidak hidup hanya untuk mengais uang dari pagi hingga dini hari. Dia hidup untuk mengatakan sesuatu. Ketika musik tidak lagi hanya menjadi hiburan tapi juga perenungan dan perlawanan, di situlah Baskara berdiri.
Kontributor: Banyu Bening Winasis
Editor: Aveny Raisa
TAG: #musik #politik #satire #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua