» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Sastra & Seni
Berapa Hari lagi Aku akan Mati?
29 Juli 2025 | Sastra & Seni | Dibaca 406 kali
Cerpen: Berapa Hari Lagi Aku Akan Mati? Foto: Portrenk from pexels.com
Otakku kembali memutar kejadian sepuluh tahun lalu, ketika aku menyaksikan segerombolan orang berbadan besar menyeret seorang pria bertubuh kecil dan bagaimana suara erangan serta pukulan bergema di gang sempit itu. Seperti ingatan yang sudah lama itu, aku kembali merasakan kejadian yang sama dengan aku sebagai pemeran utamanya; menggantikan posisi pria itu.

“Orang-orang di negeri ini sudah gila!”

Aku mendengar suara teriakan seorang pria yang bergema di jalan sempit perkampungan. Ketika aku menyusuri suara itu, mataku melihat pemandangan segerombolan orang berbadan besar berusaha menyeret seorang pria yang tubuhnya lebih kecil dari mereka; tangannya diborgol, kedua matanya ditutupi oleh sepotong kain, dan pakaiannya sedikit compang-camping dengan noda coklat yang terlihat jelas di kaos putihnya.

“Entah sejak kapan kalian mau tunduk kepada hewan kotor itu! Entah sejak kapan kalian lebih percaya omongan hewan yang seenaknya memporak-porandakan negeri ini!”

Pria itu masih terus berteriak lantang, dengan tubuh kecilnya yang berusaha memberontak. Namun, apalah dayanya dibanding segerombolan orang yang lebih besar dari dia; sedikit dorongan dari salah satu orang berbadan besar, tubuhnya akan langsung bertemu dengan tanah yang diinjaknya.

“Berusaha mencuri setiap kepingan logam dan emas yang kami miliki! Menjerat kami ke dalam belenggu bernama 'kebaikan bersama' padahal hanya hewan-hewan itu yang menikmati!”

Ah, kakak itu


dipukul! Suara 'bukk' yang begitu keras itu sedikit berdengung di telingaku. Aku melihat bagaimana pria tersebut tersungkur dengan posisi wajah yang terlebih dahulu mencium permukaan tanah. Tanpa sadar tanganku meraih pipi sebelah kanan, seolah dapat merasakan pukulan yang dialami pria itu.

“Orang-orang seperti kamu inilah yang menyusahkan negeri! Membuat jalanan rusuh dengan demo-demo gak jelas!”

Terdengar kembali suara pukulan yang datang secara bertubi-tubi. Tubuh pria yang jatuh ditendang beberapa kali  hingga terdengar suara erangan dari mulutnya, bahkan aku sedikit mendengar suara seperti kayu yang patah menjadi dua. Aku hanya bisa menunduk dan menutup telingaku, berharap mereka mau berdamai dengan cepat lalu berhenti menyakiti pria itu.

Entah berapa waktu telah berlalu, saat aku memberanikan diri untuk melihat apakah mereka sudah berdamai. Aku hanya dapat menyaksikan bagaimana pria itu telungkup di tanah tanpa ada pergerakan sekali pun, kemudian orang-orang berbadan besar menyeret tubuh yang terkulai menuju jalan keluar dari gang sempit perkampungan ini. Saat itu, umurku masih sembilan tahun. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada pria itu dan permasalahannya dengan orang-orang berbadan besar tersebut.

***

Ingatan sepuluh tahun lalu itu kembali terputar di otakku. Aku kira memori tersebut telah terlupakan karena kejadian itu membuatku takut untuk melewati jalan kecil dan memilih putar balik ke jalan besar, meskipun lebih jauh. Bahkan suara teriakan dan pukulan yang menggema saat itu menyebabkan aku mendengar di setiap sudut tempat yang aku tinggali, hingga aku demam dua minggu lebih dan membuat keluargaku khawatir setengah mati.

Pada saat itu, aku hanya berpikir bahwa pria dan orang-orang berbadan besar itu sedang bertengkar hebat hingga pukul-pukulan karena masalah orang ketiga. Mendengar kata mencuri, aku hanya mengira bahwa orang ketiga itu mencuri barang dari si pria tersebut, tetapi pihak orang-orang berbadan besar tidak terima dan jadilah pertengkaran yang aku saksikan. Namun, ternyata masalah tersebut tidak sesepele yang aku pikirkan waktu itu. 

Mungkin inilah yang dirasakan oleh pria itu, dengan badan penuh luka sana-sini, belum lagi baju compang-camping yang sudah bau apek karena tidak pernah ganti, dan diseret ke tempat yang tidak akan pernah diketahui karena sepotong kain menutupi kedua matanya. Sekarang aku tahu apa maksud ucapan pria itu. Bagaimana hewan-hewan kotor itu berusaha merampas semua yang dimiliki negeri ini; entah itu barang maupun nyawa seseorang.

Hanya berusaha membela seseorang yang kejunya dicuri oleh seekor tikus menjadikan aku berada pada situasi yang pernah aku lihat sepuluh tahun lalu; menggantikan posisi pria itu.

Ah, betapa gilanya orang-orang di negeri ini. 

Entah berapa lama lagi, aku harus bertahan di tempat sempit dan bau ini. Tubuh yang penuh luka, jeritan kesakitan dari orang-orang di ruangan sebelah, suara pukulan yang menggema; semua yang pernah aku lihat sepuluh tahun lalu, aku rasakan saat ini.

Ma, jika seandainya aku masih diberi kesempatan untuk merasakan panasnya matahari pada esok hari, aku ingin menyantap rawon buatan mama. 

Dan entah karena rasa sakit yang sudah tidak bisa aku tahan atau memang aku sudah menyerah, aku mulai menghitung mundur hari kematianku, berapa hari lagi aku akan mati?

 

Penulis: Dwi Arbelia 

Editor: Najma Tsabita


TAG#cerpen  #demonstrasi  #satire  #