» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Sastra & Seni
MODU(S)L
07 April 2018 | Sastra & Seni | Dibaca 851 kali
MODU(S)L: - Foto: MapQuestTravel
Modulku, Modusku. Sebuah romansa yang terpatri dalam kenanganku dengan kakak kelasku. Iya gara-gara modul aku jadi modus dengannya.

retorika.id - Aku duduk bersandar di bangku taman sambil memandangi modul kuliah yang kupinjam dari seniorku. Senior favoritku. Senior yang diam-diam aku suka. Tujuanku meminjam modul ini bukan untuk aku pelajari–mahasiswa seperti aku mana pernah belajar–ataupun difotocopy, tapi itu hanya alasanku untuk menghubungi dan bertemu dengannya. Tanpa sadar, aku tersenyum karena teringat rencana yang aku susun sebelum meminjam modul ini.

”Hai, Lin. Udah nunggu lama?” tanya lelaki itu sambil duduk di sebelahku.

“Belum kak, aku baru dateng kok hehe.”

Namanya Arya. Dia seniorku satu program studi, setahun di atasku. Pada awalnya, aku hanya tertarik melihatnya, karena dia satu-satunya lelaki di sekitarku–saat itu–yang tidak merokok, tidak gondrong, ataupun keduanya. Entah bagaimana,

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

tiba-tiba saja kami sudah saling mengenal dan banyak bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Perlahan-lahan, kami semakin akrab satu sama lain. Selanjutnya, seperti yang bisa diduga, tanpa sadar aku semakin suka padanya.

“Jadi, gimana ujianmu kemarin? Udah dipelajari, kan, bukunya?”

“Alin sih udah pelajari bukunya, kak. Tapi tetep aja nggak masuk di otak,” jawabku.

“Hahahaha, nggak masuk ke otak atau kamu yang nggak belajar?” Astaga. ASTAGA! Dia mengusap-usap kepalaku! Dan sekarang tangannya mulai menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Tiba-tiba saja aku merasakan rasa panas di pipiku. Aduh, jangan sampai dia melihatnya!

“Sayang, udah selesai ambil bukunya?”

Seorang gadis tiba-tiba muncul diiringi pertanyaan tersebut dan berjalan menuju ke arah kami. Kak Arya berdiri dari duduknya, kemudian menuntun gadis itu menuju ke arahku dan memperkenalkannya. “Alin, kenalin. Ini Sita, pacar kakak.”

Aku bisa merasakan tanganku bergetar saat aku mengulurkan tangan untuk menyalami gadis yang diperkenalkan Kak Arya sebagai pacarnya itu. Aku juga merasakan bibirku bergetar saat aku memaksakan diri untuk mengulas senyum saat gadis itu tersenyum padaku. Senyumnya cantik. Pantas saja Kak Arya suka.

Saat mereka mengobrol sejenak, tanpa mencolok, aku mengeluarkan selembar kertas yang aku selipkan pada halaman depan modul sesaat setelah aku berada di sini. Aku remas kertas itu dengan salah satu tanganku agar tidak ada satupun orang–selain aku–yang bisa melihat keberadaan kertas itu.

Setelah mereka berdua selesai mengobrol, aku menyerahkan modul itu pada Kak Arya. Sekali lagi, aku memaksakan seulas senyum sambil mengucapkan terima kasih.

“Ya sudah, kami duluan ya, Lin. Kamu hati-hati pulangnya,” ujar Kak Arya sambil berlalu dengan pacarnya.

Aku memandangi keduanya sampai hilang dari pandanganku. Setelah sosok keduanya tidak terlihat lagi, aku memandang kertas yang sudah kusut dalam genggamanku. Kertas yang awalnya kuselipkan ke dalam modul itu. Kertas yang isinya kutulis dengan sepenuh hati.

Kak Arya, Alin suka.

Aku menghembuskan napas, lalu meremas kertas itu sekali lagi dan membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah di samping bangku taman yang tadinya aku duduki. Aku harap, tidak hanya kertas itu saja yang bisa aku buang, tapi juga perasaanku pada Kak Arya.

 

Penulis : Sang Ayu Putu Yuanita Pramesti


TAG#cerpen  #karya-sastra  #romansa  #