» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Pop Culture
HUNGER: Ketika Makanan Menjadi Representasi Diri dan Kelas Sosial
29 April 2023 | Pop Culture | Dibaca 723 kali
HUNGER: Ketika Makanan Menjadi Representasi Diri dan Kelas Sosial: - Foto: netflix
Bagi sebagian orang, makanan bukan hanya sebagai pemuas perut. Film Thailand berjudul HUNGER menunjukkan esensi makanan yang lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia akan rasa lapar.

Retorika-id.“...in Roman society, where the food a person ate (its quality, quantity, and presentation) reflected their status in life and where large numbers of the population struggled at subsistence levels..,” (Gowers et al., 2009).

 

Makanan (seperti yang diketahui oleh banyak orang) merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Singkatnya, tanpa makanan, tubuh manusia tidak akan mendapat zat-zat yang diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan. Begitu kira-kira penjelasan biologisnya. Namun, bagaimana jika makanan tidak hanya memenuhi kebutuhan biologis semata? Bagaimana jika makanan juga menjadi kebutuhan akan representasi diri dan kelas sosial?

 

Hal ini ditampilkan di film Thailand berjudul HUNGER. Film ini diperankan tokoh utama bernama Aoy, seorang anak pemilik kedai makanan yang ingin mengejar mimpinya untuk menjadi chef ‘istimewa’, ada pula chef  Paul, seorang chef yang dikenal dengan keahlian memasak untuk kalangan orang kaya.

 

Cerita berangkat dari Aoy yang berhasil bekerja bersama chef Paul. Aoy menemukan bahwa orang-orang kaya tidak hanya makan karena lapar, namun lebih


dari itu, mereka memedulikan tentang estetika, kualitas, dan siapa pembuat makanan tersebut. Hal ini berlawanan dengan pembeli di kedai Aoy yang punya prinsip berbeda. Apapun yang terjangkau dan enak, agaknya sudah cukup untuk disebut makanan yang layak di kedai milik Aoy.

 

Jika mengingat satu dari sekian banyak makanan yang disajikan di film HUNGER, salah satu yang (mungkin) banyak dikenal masyarakat awam sebagai bahan makanan kelas atas adalah caviar. Caviar juga memiliki peran khusus di film ini, karena menjadi alasan ‘luka masa lalu’ chef Paul yang kemudian berkembang menjadi ambisi untuk menjadi ‘sumber rasa lapar’ orang-orang kelas atas yang pernah meremehkan dirinya dulu. 

 

Apa yang menarik bahwa ternyata caviar yang dihargai lebih dari 300 juta per kilogram nya itu tidak seenak rasanya. Jika dilihat lebih dalam, hal ini sejalan dengan pernyataan Bourdieu (1984) (dalam Beagan et al., 2015). Bahwa, mereka yang memiliki modal ekonomi kecil memiliki keputusan pembelian yang relatif terbatas. Dengan modal yang terbatas tersebut, mereka perlu memaksimalkan kalori yang didapat. Maka dari itu, bagi mereka, makan enak berarti makan banyak dan mengenyangkan.

 

Hal ini berkebalikan dengan mereka yang punya modal ekonomi besar. Orang-orang di tingkat ekonomi ini tidak melihat makanan sebagai ‘bahan bakar’. Mereka cenderung melihat disposisi estetika terhadap makanan, sehingga makanan juga dipertimbangkan sebagai perbedaan gaya, kesenangan, dan apresiasi.

 

Maka tidak heran jika para kaum elitis rela menggelontorkan uang demi makan makanan mahal. Selain memang memiliki kuasa atas keputusan pembelian, elitis melihat makanan menjadi representasi diri di mata masyarakat, sekalipun harus mengesampingkan cita rasa makanan.

 

Makanan lebih dari sekadar sesuatu yang ditelan. Secara sosial ada 5 kategori fungsi makanan, yaitu pengelompokan sosial, hubungan, simbolisme, kinerja peran, dan sosialisasi (Seymour, 1983).

 

Singkatnya, bahwa kaum kelas atas mementingkan fungsi sosial selain fungsi biologis dalam hal makanan, sedangkan kaum kelas bawah hanya memerhatikan fungsi biologis dari makanan. Hal ini tentu tidak terlepas dari perbedaan tingkat ekonomi keduanya.

 

Melalui film berdurasi 2 jam 10 menit tersebut, penonton akan mendapat pengalaman baru mengenai 2 sisi fungsi dan perspektif berbeda dari sebuah makanan. Film HUNGER seakan mengajak penonton melihat ‘nilai’ yang terdapat pada sebuah makanan, yang mungkin selama ini sering diabaikan.

 

Referensi:


Beagan, B. L., Power, E. M., & Chapman, G. E. (2015). “Eating isn’t just swallowing food”: Food practices in the context of social class trajectory. Canadian Food Studies / La Revue Canadienne Des Études Sur l’alimentation, 2(1), 75–98. https://doi.org/10.15353/cfs-rcea.v2i1.50

Gowers, E., Edwards, C., Garnsey, P., Dunbabin, K. M. D., Wilkins, J. M., Hill, S., & Hadley, D. M. (2009). DINNER AT SENECA ’ S TABLE : THE PHILOSOPHY OF FOOD. Greece & Rome, 56(1).

Seymour, D. (1983). The social functions of the meal. International Journal of Hospitality Management, 2(1), 3–7.


Penulis: Afifah Alfina

Editor: Ariati Putri M.

 


TAG#film  #  #  #