» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Tajuk Rencana
Unair: Bisu Autokratisasi, Buta Hak Asasi
02 Februari 2024 | Tajuk Rencana | Dibaca 264 kali
Unair: Bisu Autokratisasi, Buta Hak Asasi: - Foto: sarpras unair
Kala kampus-kampus lain beramai-ramai mengeluarkan maklumat dan manifesto soal kemunduran demokrasi, Unair diam saja. Ketika banyak pihak menyuarakan pelanggaran hak asasi di berbagai belahan dunia, Unair membisu. World Class University dari mana?

Retorika.id - Berbagai perguruan tinggi telah menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap nasib demokrasi dan dinamika politik dalam negeri yang kian memanas jelang pemilihan presiden 2024. UII, UGM, UI, dan Unhas adalah empat contoh nyatanya, di samping beberapa perguruan tinggi yang telah mengambil sikap terhadap tendensi autokratisasi dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Tak bisa dimungkiri, kondisi politik dewasa ini semakin mengkhawatirkan, melihat betapa vulgarnya konstitusi dapat dilangkahi secara ugal-ugalan demi kepentingan kekuasaan. Indonesia dibayang-bayangi cengkraman politik dinasti, lengkap dengan serentetan pelanggaran teknis maupun etis kampanye yang semakin menurunkan kadar demokrasi di negeri ini. Akan tetapi, melihat kondisi tersebut, Unair seakan bergeming, tak terdengar suaranya barang sedikit pun.Padahal, Unair memiliki FISIP sebagai wadah pembelajar ilmu sosial dan ilmu politik,


yang seharusnya menjadi pihak paling melek soal HAM dan demokrasi di antara fakultas-fakultas lain. Pun demikian dengan marwah yang dibawanya. Dalam ospek fakultas, FISIP diperkenalkan sebagai kampus pergerakan. Lantas apanya yang bergerak?

Sebenarnya, fenomena bisunya Unair bukan merupakan hal baru. Kala dunia melewati berbagai macam isu dan perkembangan diskursus belakangan ini, Unair seakan memalingkan wajah dan menutup mata.Isu genosida di Palestina, isu pengungsi Rohingya, perampasan tanah dan konflik agraria, tidak ada suara apapun yang terdengar. Jangankan pernyataan resmi atau pengambilan sikap. Usaha selemah-lemah iman seperti kajian dan diskusi terbuka juga rasanya urung dilakukan. Mungkin karena memang diskusi semacam itu tidak berdampak pada ranking Unair dalam WCU yang selama ini dibangga-banggakan. 

Lantas, dari mana sebenarnya kebisuan ini berasal? Kelindan kepentingan akademik dan politik bisa menjadi salah satu jawabannya. Adanya civitas akademika Unair yang berafiliasi dengan kelompok politik tertentu, atau skema pemilihan rektor yang melibatkan pejabat kementrian, menjadi salah satu alternatif jawaban mengapa Unair terasa "jinak" dalam posisi yang diambil selama ini.

Pun program kampus merdeka dan neoliberalisasi pendidikan tinggi yang memberikan disinsentif bagi perguruan tinggi untuk bergerak di sektor-sektor non akademis. Indikator-indikator yang ditetapkan dalam kegiatan-kegiatan kampus merdeka minim orientasi sosial. Lebih banyak insentif yang didapatkan mahasiswa ketika, misalnya, bergabung dengan program MSIB dan IISMA daripada aktif dalam gerakan-gerakan akar rumput yang langsung berdampak nyata secara sosial. Maka, tidak ada insentif bagi Unair untuk menyebarkan awareness mengenai kondisi isu-isu humaniter dan autokratisasi yang ada di Indonesia. Akibatnya, mahasiswa tidak merasa memiliki dorongan altruistik untuk menaruh perhatian pada isu-isu tersebut sedari awal. 

 

Apabila kebisuan ini diteruskan, Unair tak ubahnya akan menjadi "sekadar" produsen tenaga kerja siap pakai saja. Tidak lagi menjadi penjaga nilai-nilai luhur, demokrasi, konstitusi, dan Hak Asasi Manusia. Padahal, Unair punya modal yang lebih dari cukup untuk membuat perbedaan barang sekecil apapun. Karenanya, biarlah tajuk rencana ini sekaligus menjadi peringatan dan desakan bagi Unair, dan FISIP khususnya, untuk mengalokasikan modalitas yang dimilikinya dalam koridor-koridor yang pro-demokrasi.Apabila hal tersebut tidak dilakukan, tak usah Unair memakai jargon excellent with morality” lagi. Dan FISIP, tolong jangan lagi memperkenalkan diri sebagai kampus pergerakan. 

 

Penulis: Ghulam Pambayung

Editor: Jingga R

 


TAG#akademik  #aspirasi  #demokrasi  #dinamika-kampus