» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Melihat Peristiwa 65 dari Perspektif Kemanusiaan, Bonnie: Saya Pikir Itu Cahaya di Ujung Terowongan
05 Oktober 2020 | Liputan Khusus | Dibaca 76 kali
John Roosa, seorang penulis sekaligus sejarawan dari University of British Columbia: sumber: Foto: Dokumentasi Pribadi/Rimaya Akhadiyah
Mewujudkan rekonsiliasi peristiwa’65 memang tidak akan pernah mudah. Apalagi mengingat dua narasi yang akan selalu hidup di kalangan masyarakat, sehingga menciptakan penafsiran yang berbeda-beda antar individu. Oleh karena itu, John Roosa, seorang penulis sekaligus sejarawan dari University of British Columbia menilai, rasa kemanusiaan harus hadir ketika membahas tentang rekonsiliasi.

retorika.id- Dua Narasi yang Tidak Imbang

Diskusi dialog sejarah bertajuk “1965: Sejarah yang Dikubur” masih mengungkit tentang normalisasi kekerasan peristiwa 65 yang terus terjadi hingga sekarang. Dalam diskusi yang dilaksanakan (29/09) ini, Bonnie Triyana, Pemimpin Redaksi Historia memberikan pernyataan bahwa, operasi penumpasan orang-orang PKI yang dilakukan dengan cara tidak wajar, sudah seharusnya tidak dibenarkan atau dinormalkan begitu saja. Tetapi, masalah yang terjadi masih sama. Ingatan orang-orang hanya berhenti di peristiwa 1 Oktober, sehingga menimbulkan stigma pada komunisme sampai sekarang.

Bonnie pun meminta Grace Leksana seorang peneliti sejarah yang juga sebagai pembicara untuk menjelaskan alasan, mengapa stigma tersebut sampai sekarang sulit untuk diimbangi. Dengan gamblang, Grace menjawab pertanyaan tersebut bahwa masyarakat Indonesia akan terus hidup dengan dua narasi bertentangan. Dimana narasi kekerasan (yang dilakukan pada orang-orang yang dianggap PKI) lebih sedikit dibicarakan dibanding narasi 65 (PKI dianggap dalang peristiwa G30S). Hal itu terjadi

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

karena pemerintah terutama di masa Orde Baru menanamkan narasi tersebut melalui ranah-ranah formal, seperti pendidikan, museum, hingga hari peringatan.

Bagi Grace sendiri yang terpenting sekarang adalah mengupayakan narasi kekerasan tetap hidup dan terus dibicarakan, meksipun hanya melalui ranah-ranah informal. Dengan berbagai cerita yang hidup di masyarakat, Grace menuturkan bahwa upaya untuk meformalisasikan narasi kekerasan tidak perlu dilakukan.

Setelah Grace memberikan jawabannya, Bonnie kembali mempersoalkan monotafsir yang seakan sudah menjadi ingatan resmi masyarakat Indonesia pada umumnya. Kepada John Roosa, penulis sekaligus sejarawan dari University of British Columbia, Bonnie bertanya tentang sulitnya mengimbangi narasi 65, meskipun banyak literatur yang terverifikasi secara akademik telah terbit.

John sendiri cukup bingung di sini. Ia mengaku tidak bisa sepenuhnya memahami perasaan para korban yang masih tidak berani menceritakan peristiwa 65. Untuk dilakukan rekonsiliasi pun tidak semudah itu mengingat para pelaku sudah banyak yang meninggal.

Di sini, John menegaskan hanya perspektif kemanusiaan yang harus dipegang. Dengan perspektif tersebut, bentuk kejahatan apapun tidak bisa dimaafkan, seperti pembunuhan hingga penghilangan.

Harapan Rekonsiliasi Peristiwa ‘65

Rekonsiliasi adalah semacam upaya untuk meluruskan, memperbaiki, dan mendamaikan dampak dari sejarah yang telah terjadi sebelumnya. Banyaknya penafsiran dan makna yang tumbuh di kalangan masyarakat tentang peristiwa ’65 membuat upaya rekonsiliasi tidak pernah menemukan titik terang.

Bagi Grace sendiri, yang dinamakan rekonsiliasi itu memang rumit. Setiap korban memiliki permintaan damai yang berbeda-beda, ada yang menginginkan permintaan maaf dari negara, klarifikasi sejarah, bahkan sudah ada yang tidak peduli karena alot-nya upaya untuk mewujudkan harapan ini.

Meski begitu, Grace menuturkan beberapa cara yang bisa dilakukan negara dalam mewujudkan rekonsiliasi peristiwa ’65. Pertama, membiarkan riset tentang peristiwa ’65 bahkan ’48 didukung oleh negara. Kedua, negara harus memberikan perlindungan bagi siapapun yang hendak mewujudkan rekonsiliasi ini.

“Tahapan dasar ini adalah langkah awal dimana negara bisa berperan,” ujar Grace memberikan kesimpulannya.

Sedangkan, John kembali memberikan jawaban yang berkaitan dengan perspektif kemanusiaan. Dia menilai bahwa rasa kemanusiaan harus hadir ketika membahas tentang rekonsiliasi. Salah satu cara yang John berikan adalah membantu keluarga korban dalam mencari jenazah-jenazah saudara mereka yang hilang. Menurut John, apabila hal tersebut dapat diwujudkan, Indonesia yang baru akan lahir. Di mana harga manusia lebih tinggi, melebihi apapun itu.

Mendengar penuturan John, Bonnie seakan menemukan jawaban yang ia inginkan. Dia setuju bahwa setiap manusia harus meningkatkan nilai kemanusiaannya.

“Saya pikir itu cahaya di ujung terowongan,” ujar Bonnie, lantas memberikan penutup untuk dialog sejarah pagi itu.

Bagaimanapun, rasa kemanusiaan tidak akan terbatas pada ideologi, agama, etnisitas. Rasa kemanusiaan juga akan memberikan perspektif yang lebih luas pada setiap individu dalam melihat peristiwa ’65.

 

Penulis: Rimaya Akhadiyah


TAG#event  #pemerintahan  #sejarah  #sosial