» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Info Kampus
Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Gender: Tantangan dan Perubahan
24 Mei 2021 | Info Kampus | Dibaca 114 kali
Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Gender: Tantangan dan Perubahan: - Foto: dokumentasi pribadi/Charisse
Kepemimpinan perempuan di masa modern sudah semakin marak, namun prasangka dan stigma masih melekat kuat terhadap seorang pemimpin perempuan. Dalam agenda diskusi internal LPM Retorika FISIP Unair yang diadakan pada Sabtu (22/5/2021) menghadirkan dua perempuan hebat untuk berbagi pengalaman dan perspektifnya ketika menjadi seorang pemimpin perempuan di organisasi kampus.

retorika.id-Pada Sabtu (22/5) lalu, LPM Retorika FISIP Unair mengadakan diskusi internal bertajuk “Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Gender”.

Dalam diskusi tersebut, Retorika bersama dua pembicara yakni, Dewi Milenia Alamia selaku ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa Unair tahun 2020 dan Pulina Nityakanti Pramesi selaku pemimpin umum LPM Retorika tahun 2019-2020 membahas bagaimana pengalaman mereka selama menjadi pemimpin organisasi kampus pada masanya.

Dewi Milenia memaparkan desain masyarakat modern yang terdiri dari SDG’s (Sustainable Development Goals) itulah yang telah memuat kesetaraan gender. Dalam hal ini, perempuan dan laki-laki memilki nilai dan peran yang sama.

Perbedaan diantara perempuan dan laki-laki hanya mengenai hormon. Selain itu, pada masa modern juga telah berkembang gerakan

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

feminisme yang bertujuan memerdekakan hak-hak perempuan.

Namun, yang menjadi penghalang bagi kepemimpinan perempuan adalah pandangan yang patriarkis. Perempuan masih dianggap selalu di dapur dan tidak perlu meraih pendidikan yang tinggi. Padahal, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Pulina Nitya selaku Mantan Ketua LPM Retorika,  yang  menyampaikan bahwa masyarakat tidak hidup dalam situasi yang bebas nilai, sehingga ketika masyarakat yang menganut nilai-nilai patriarki memilih, mereka punya pandangan bahwa pemimpin identik dengan maskulinitas.

Tentunya hal tersebut akan menimbulkan kecenderungan masyarakat untuk memilih pemimpin laki-laki dibandingkan perempuan, walau sebenarnya kesempatan bagi perempuan untuk menjadi pemimpin sudah ada.

Meskipun terdapat  kesempatan bagi kaum perempuan untuk menjadi seorang pemimpin, banyak hambatan yang harus di lewati.

Perempuan yang menjadi pemimpin tidak jarang mendapatkan diskriminasi dan stereotip, bahkan mendapat tindakan gaslighting. Dalam budaya yang patriarkis, pemimpin perempuan selalu dibandingkan dengan pemimpin laki-laki, dan pemimpin perempuan yang memiliki traits maskulinitas dianggap tidak baik.

Berkaitan dengan hal tersebut, bahwa di ranah politik khususnya parlemen sudah terdapat upaya untuk meningkatkan peran perempuan. 

Dengan pemberlakuan affirmative action yang merupakan sebuah kebijakan untuk menguatkan posisi perempuan di parlemen dengan kuota 30%, tentunya  menjadi angin segar bagi perempuan untuk dapat meningkatkan peran dalam dunia politik.

Namun mirisnya, affirmative action hanya memperhatikan kuantitas, bukan kualitas. Ketika kuota perempuan dianggap telah memenuhi, maka masalah dianggap selesai. Padahal keberadaan perempuan bukan semata agar memenuhi kursi namun juga memperjuangkan kepentingan sesama perempuan.

Pada akhir diskusi, ditutup mengenai pembahasan apa saja yang perlu dilakukan perempuan untuk menjawab berbagai stigma yang ada. Kedua narasumber menyatakan bahwa perempuan harus benar-benar menghargai perjuangan sosok-sosok perempuan terdahulu.

Selain itu, perayaan hari perempuan masih dirasa hanya sebagai affirmative action. Dalam masyarakat dengan budaya patriarki, apabila perempuan mengalami kekerasan akan lebih jarang disorot. Karenanya, perempuan perlu saling mendukung dan menguatkan sesamanya, terutama pemimpin perempuan.

 

Penulis: Charisse Renica

Editor: Adiesty Anjali


TAG#fisip-unair  #gender  #lpm-retorika  #