 (1).jpg)
Seberapa jauh dirimu akan berkorban demi tetap relevan di mata publik? Akankah kamu mengorbankan segalanya demi tetap dicintai dan dipuji oleh semua orang? Kapan kamu akan merasa puas? Film “The Substance†karya Coralie Fargeat tidak hanya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tapi juga akan membawa penonton masuk ke dalam dunia body horror yang mengerikan.
Retorika.id - Disutradarai oleh Coralie Fargeat, "The Substance" tayang perdana di layar lebar pada 20 September 2024. Demi Moore yang berperan sebagai Elisabeth Sparkle, seorang bintang TV aerobik, membawa penonton menyelami tekanan standar kecantikan dan usia dalam industri hiburan. Elisabeth yang dulunya dipuja karena tubuh dan wajahnya yang ideal, semuanya berubah ketika ia menginjak usia 50 tahun dan ia tak lagi masuk dalam standar ‘layak tampil’.
Merasa frustasi dirinya tidak dibutuhkan lagi, Elisabeth mendapatkan kesempatan keduanya untuk kembali ke panggung yang begitu ia cintai melalui sebuah prosedur misterius bernama The Substance, yang memungkinkan Elisabeth ‘melahirkan’ versi mudanya
sendiri. Sosok itu adalah Sue (Margaret Qualley), perempuan yang hadir dengan segala kualitas yang diinginkan industri untuk menggantikan Elisabeth yaitu muda, cantik, dan karismatik. Namun, terdapat harga yang harus dibayar untuk kehadiran Sue. Keduanya, Elisabeth dan Sue, harus berbagi waktu hidup yaitu 7 hari dan tubuh Elisabeth harus menghasilkan cairan untuk menjaga kesempurnaan Sue.
Fargeat menyampaikan kritik sosialnya lewat visual yang tidak selalu nyaman dan terkadang mengganggu penonton, tapi kuat dalam makna yang akan disampaikan. Kita diajak menyaksikan bagaimana perhatian dan kasih sayang publik perlahan beralih dari Elisabeth ke Sue, hanya karena perbedaan usia dan tampilan. Film ini menunjukkan pahitnya bagaimana seseorang bisa tersingkir begitu saja bukan karena kehilangan kemampuan, melainkan karena tak lagi sesuai dengan ekspektasi dunia industri hiburan yang terus berubah. Ditambah dengan konflik antara keduanya yang dibangun secara perlahan tetapi intens karena Sue menginginkan untuk selalu ‘sadar’ membuat kita sulit untuk tidak bersimpati pada Elisabeth.
Pemilihan Demi Moore sebagai Elisabeth Sparkle terasa sangat tepat. Sejarahnya sebagai ikon kecantikan Hollywood membuat "The Substance" terasa lebih personal. Ia memainkan Elisabeth dengan kedalaman emosional yang menggugah empati penonton, memperlihatkan kerentanan seorang perempuan yang tak lagi mempunyai tempat di industri yang dulu mengagungkannya. Margaret Qualley juga tampil kuat sebagai Sue, ia sukses menghadirkan Sue dengan citra superficial yang sesuai dengan estetika media sosial masa kini.
Lewat atmosfer yang mencekam, visual yang mengesankan dan berbagai momen menjijikkan seperti saat Sue menyedot cairan dari tubuh Elisabeth dan anomali di tubuh Sue yang muncul akibat Sue terlalu lama sadar dibungkus secara menawan oleh Fargeat. "The Substance" tampil sebagai horror yang bukan hanya soal tubuh dan gore semata, tapi juga kritik terhadap industri hiburan dan standar kecantikan yang tidak realistis. Alih-alih membicarakannya secara lantang, film ini menyisipkan pertanyaannya secara pelan, “Seberapa jauh seseorang mengorbankan dirinya demi tetap relevan di mata dunia?”
Penulis: Hayuna Nisa
Editor: Vlea Viorell Indie Princessiella
TAG: #film #satire #sosial #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua