» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 081281600703.

Opini
Mau Dibawa Ke Mana Negeri Ini?
27 Maret 2017 | Opini | Dibaca 741 kali
Esensi Demo Buruh: - Foto: elshinta
Demo buruh terus dilayangkan tiap tahunnya, namun apa sebenarnya esensinya? Bagaimana perspektif lain memandangnya?

retorika.id - Buruh adalah golongan masyarakat paling rendah dalam stratifikasi masyarakat industri. Dahulu, saat hak suara kita dibungkam oleh sang penguasa, semua buruh bekerja dengan begitu keras. Dan mereka benar-benar bekerja untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, lebih-lebih mereka ingin memberontak agar mereka bisa mendapatkan haknya dan diperlakukan selayaknnya manusia. Karena pada masa itu buruh memang diperlakukan tidak manusiawi oleh para penguasa.

Akan tetapi ada sisi penting dari semua itu, perekonomian negara mengalami perkembangan yang begitu signifikan dan laju perekonomian menjadi lebih cepat. Hal tersebut menjadi perdebatan antara memperjuangkan kemanusiaan ataukah perekonomian yang mencakup semua kebutuhan negara. Namun, dalam hal ini pemerintah harus mampu menyeimbangkan kondisi yang menyangkut masalah kemanusiaan dan juga perekonomian negara, karena kedua-duanya penting untuk kelangsungan hidup negara.

Bagaimana pun, meraka berhak untuk mengeluhkan nasib mereka kepada ibu mereka (pemerintah) karena kerja mereka yang begitu keras hingga waktu, tenaga, keluarga, sampai nyawa mereka pun telah mereka perjuangkan demi mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup mereka, tetapi pada kenyataannya mereka tidak mendapatkan apa yang telah menjadi hak mereka.

Berbeda dengan era reformasi saat ini, sekarang kita bebas mengemukakan aspirasi. Namun, sering kali aksi demo di beberapa daerah yang dIgelar untuk menuntut kenaikan gaji atas biaya hidup yang dirasa masih

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

kurang. Sebenarnnya urusan biaya hidup yang kurang ataupun tidak itu merupakan masalah pola hidup individu sendiri, bagaimana mereka mampu mengatur pengeluaran. apabila harus mengikuti hasrat untuk memenuhi kebutuhan, pastinya tidak akan pernah cukup, karena sudah menjadi prinsip ekonomi, kebutuhan itu tidak terbatas. Tetapi kita perlu tahu bahwa alat pemuas kebutuhan itu sangatlah terbatas.

Bagaimana mungkin buruh yang berdemonstrasi itu melakukan aksi dengan keluhan ingin gajinya itu dinaikkan, dan kita tahu bahwa setiap tahun demo buruh pasti terjadi dan tuntutannya pun masih sama yaitu ingin gajinya dinaikkan. Itu bukan suatu hal yang wajar. Apakah setiap tahun gaji buruh harus naik?

Normalnya dalam bidang perindustrian sistem upah atau gaji itu memiliki pertimbangan dengan berbagai macam teori, salah satunya dalam menaikkan gaji para pegawai. Perusahaan akan menaikkan gaji pegawainya apabila pegawai tersebut telah melakukan banyak kontribusi pada perusahaannya atau mereka memiliki prestasi yang berdampak pada peningkatan produktivitas perusahaan.

Sedangkan bagaimana pada kenyataannya? Produktivitas mereka belum mencapai angka cukup, bagaimana bisa perusahaan mampu membayar semua kebutuhan perusahaan? Apabila para buruh masih menuntut upah tinggi, kebutuhan perusahaan tidak hanya untuk membayar upah karyawan saja bukan? Jika seperti ini maka perusahaan akan semakin memantapkan niatnnya untuk mengubah semua tenaga manusia menjadi tenaga mesin ataupun robot, karena jika diperhitungkan, biaya perawatan mesin bisa lebih murah daripada membayar upah buruh. Hal itu akan menambah permasalahan negara, dan juga para buruh sendiri akan bermasalah, karena mereka akan kehilangan pekerjaan, dan tidak ada lagi yang bisa dikerjakan karena tidak adanya lapangan pekerjaan.

Lalu bagaimanakah seharusnya agar permasalahan seperti ini tidak terulang terus menerus? Seyogyannya demonstrasi itu tujuannya agar keluhan kita itu didengar oleh para atasan,  bukan untuk menuntut dan dipenuhi tuntutannya. Sudah menjadi urusan yang membuat keputusan apakah tuntutan kita mampu untuk dipenuhi atau tidak, karena para atasan juga membutuhkan banyak pertimbangan-pertimbangan lain yang menyangkut kepentingan bersama juga.

Tidak sedikit masalah yang dihadapi oleh negara ini, bukan hanya mengurusi masalah buruh saja. Tetapi jika ada yang ingin didengar, berarti harus ada yang menjadi pendengar. Lalu siapakah yang seharusnnya menjadi pendengar itu? Menteri ketenagakerjaan? Ataukah atasan perusahaan? Lalu di manakah mereka selama ini? Jadi sebenarnnya mereka berdemo kepada siapa?

Di sinilah menurut saya terdapat ketidaksesuaian. Mereka yang berdemo tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin dipenuhi tuntutannya. Sedangkan yang menjadi pendengar hilang entah kemana, mungkin menghindar, atau pura-pura tidak tahu, atau mungkin sengaja untuk menutup telinga, entahlah.

Dengan adanya demo, permasalahan baru akan muncul. Lalu lintas menjadi macet dan kegiatan produksi menjadi terhambat. Betapa sia-sianya waktu yang telah terjadi itu. Jika semua yang telah dilakukan tidak ada hasil dan tidak menemukan titik temu, akan lebih bermanfaat jika demo itu tidak terjadi, sehingga para supir angkot tidak telat mengantarkan penumpang, penumpang juga tidak telat sampai tujuan, kegiatan produksi menjadi lancar, itu akan lebih menguntungkan banyak pihak, termasuk mereka sendiri. 

Tidak ada salahnnya para buruh melakukan demonstrasi untuk mengeluhkan masalahnya, tetapi ingat demonstrasi itu tujuannya supaya keluhan kita itu didengar. Dan jika sikap buruh seperti itu, ingin dipenuhi semua tuntutannya, berarti mereka telah mencerminkan sikap sosialis di Indonesia. Apa bedannya mereka dengan komunis? Di mana kepentingan kelompok harus dipenuhi, karena buruh merupakan sebuah kelompok, mereka yang hanya memikirkan nasib mereka tidak memikirkan nasib yang lain, karena kita tahu permasalahan yang kita hadapi bukan untuk buruh saja.

Selain itu dewan yang mendengarkan, bagaimana tindakannya, ini seperti seorang anak yang butuh didengarkan, dengarkanlah anakmu ini yang sedang mengeluh. Berikan pengertian yang baik supaya mereka bisa menerima apa yang harusnya mereka terima, sehingga mereka tidak melakukan pemberontakan yang lebih hebat karena mereka tidak pernah didengar. Berbagai elemen hendaklah menjalin komunikasi yang baik dan bersahabat, agar setiap masalah dapat diselesaikan dengan damai, saling mengerti dan semuannya akan merasa aman dan tenteram. (En/Red)


-Diva Aliffani-

 Editor: Dewi Widyastuti


TAG#aspirasi  #demokrasi  #demonstrasi  #ekonomi