» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 082112438727.

Sastra & Seni
Ini Semua Karena “Budi”
23 Februari 2019 | Sastra & Seni | Dibaca 227 kali
Gara-Gara Budi: Dikte Negara Melalui Budi Pekerti Foto: TemanTakita
Ini semua karena Budi! Negara kita ternyata mendiktekan cara berperilaku melalui Budi, Bapak Budi, Ibu Budi, dan keluarga Budi. Ya tidak salah jika nantinya kita gemar menghujat karena tidak sesuai "Budi" pekerti.

retorika.id - Rasanya sudah sedari kecil kita diajarkan mengenai keluarga Budi. Bahkan keluarga Budi ikut menemani kita dalam belajar aksara.

Ah, memang tidak dijelaskan secara rinci tentang silsilah keluarga Budi. Jadi kita tebak saja jika Budi adalah anak tunggal. Atau Budi punya adik? Atau kakak?

Yang jelas keluarga Budi telah membantu kita dalam banyak hal. Tak hanya belajar aksara,

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

jangan lupakan bahwa dalam pelajaran kewarganegaraan bahwa keluarga Budi adalah teladan dari budi pekerti. Betapa buku-buku pelajaran itu mengajarkan kita akan kehidupan yang baik dari keluarga Budi. Sebuah dikte dari keluarga ideal oleh negara sepertinya.

Bagaimana tidak? Bukankah Budi selalu mencoba berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela? Bagaimana negara yang bersifat struktural fungsional ini mencoba menyetir masyarakatnya mulai dari kecil untuk patuh pada nilai dan norma yang ada. Bagaimana perbuatan tercela hanya dilihat dari “kulitnya” saja, padahal bisa jadi perbuatan yang tercela itu sebenarnya memiliki maksud baik.

Ah ... tidak. Niat baik itu pasti dilakukan dengan aksi baik pula bukan? Tidak mungkin ada niat baik dalam aksi yang tidak terpuji.

Memang terlihat sederhana, tapi bolehkan kita berasumsi bahwa perbuatan terpuji dan tidak terpuji yang dilakukan Budi menjadi acuan kita yang gemar menghakimi baik buruknya orang lain?

Ya, katanya tidak usah munafik. Manusia memang tempatnya kesalahan, sehingga manusia juga yang membuat kesalahan dengan menghakimi “kesalahan”, seakan mereka tidak salah saja dengan menghakimi “kesalahan” itu.

 

Penulis : Anita Fitriyani


TAG#cerpen  #karya-sastra  #sosial  #