» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Pop Culture
Review Buku ‘Laut Bercerita’ Gugah Rasa Kemanusiaan
02 Oktober 2022 | Pop Culture | Dibaca 249 kali
Berakhirnya September tahun 2022, tepat saat review ini dibuat. Masyarakat pun ikut mengenang September Hitam dimana sejumlah peristiwa non kemanusiaan dan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) terjadi. Meski bukan bercerita tentang misteri pembunuhan Munir, tragedi Tanjung Priok, Semanggi, Reformasi Dikorupsi atau Tragedi 1965-1966, Leila S. Chudori berhasil melakukan riset dan wawancara kepada saksi, korban, pengamat tentang penyiksaan serta hilangnya sekolompok aktivis mahasiswa di tahun 1998. Hasil riset dan wawancara itu pun berhasil membuahkan karya fiksi sejarah yang mengusik rasa kemanusiaan.

Rerotika.id - Meski dirilis pertama kali pada tahun 2017, rupanya buku Laut Bercerita tetap menjadi pengingat khususnya bagi masyarakat Indonesia hingga kini, bahwa pengungkapan kebenaran dan pemulihan pada korban harus tetap diupayakan. Itulah kewajiban negara yang masih mangkir dilakukan hingga sekarang. Maka tak pelak, buku ini semakin digandrungi dan menjadi best seller di jajaran rak buku, bahkan short movie dengan durasi 30 menit 5 detik juga dibuat. Tak main-main, tokoh Biru Laut dan Anjani kekasih Laut diperankan oleh artis ternama seperti Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo.

Secara garis besar, novel ini terbagi menjadi dua babak dengan sudut pandang tokoh dan latar waktu yang berbeda. Babak pertama, diceritakan oleh Biru Laut sebagai tokoh utama yang merupakan mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada. Kecintaannya pada membaca dan menulis memengaruhi daya berpikir Laut hingga ia mengenal sosok Kinan yang aktif sebagai aktivis mahasiswa. Dari situlah, Laut menceritakan kegiatannya sebagai aktivis Winatra yang memiliki induk organisasi Wirasena sejak 1991- 1998. 

Bersama teman-temannya, Kinan, Sunu, Alex, Daniel, Julius, Widi, Dana, Naratama, Narendra, juga Mas Gala yang sering disebutnya sang penyair dan beberapa kawan lainnya, mereka sering berdiskusi tentang pembebasan masyarakat dari rezim orde baru kala itu. 

Melalui rumah seadanya yang mereka sewa di Sayegan dengan harga murah, tempat itu menjadi sekretariat yang penting bagi mereka dalam berdiskusi sebelum melakukan aksi yang berpihak pada rakyat kecil, seperti buruh maupun petani. Di situ juga, Laut bertemu Anjani, sosok perempuan yang memikat hatinya. Bagi Laut, ada tiga sosok perempuan pemberani dengan pemikiran terbuka yang


pernah ia kenal, yakni Anjani, Kinan, dan adiknya Asmara. Nama Asmara inilah yang menjadi bagian penting dari babak kedua buku ini.

Pada babak pertama, Leila menceritakan alur maju mundur dimana Laut bersama teman-temannya disekap dan disiksa oleh sekelompok orang tak dikenal yang diduga dari golongan militer. Pada saat hilang kesadaran, Laut merindukan masa-masa dirinya bersama keluarga yang tiap minggu rutin menanti masakan ibu, berbincang kritis dengan ayahnya, serta mengganggu adiknya Asmara. Ataupun kisah perjuangannya bersama Anjani serta teman aktivis lainnya. Bahkan, ia dan beberapa kawan pernah disekap sebelum ini, yakni pada peristiwa aksi Tanam Jagung Blangguan 1993 hingga dianggap sebagai dalang kerusuhan peristiwa Sabtu Kelabu. 

Kegiatan mereka pun terus dipantau. Seorang kawan yang menjelma jadi penyusup dalam organisasi sangat lihai memainkan perannya. Hingga Laut dan teman-temannya sendiri tak sadar ada pengkhianat di antara mereka. Meski kecurigaan tetap ada, karena kegiatan mereka yang sering dianggap menentang pemerintah, mereka harus hidup bersembunyi sebagai buron, dan berpindah-pindah tempat agar tak ditangkap. Rupanya, upaya itu tak bertahan lama hingga satu persatu anggota dari Wirasena dan Winatra ditangkap dan disiksa di suatu tempat tersembunyi.

Di babak ini, Leila berhasil mengoyak-ngoyak hati pembaca untuk ikut marah, sedih, rindu, geram ketika siksaan demi siksaan dialami oleh para tokoh. Siksaan yang tak manusiawi seperti diestrum, dipaksa tidur di atas balok es, diinjak kakinya dengan kaki meja, sampai dipukuli hingga tak sadarkan diri. Tetapi mereka dituntut untuk kuat dan setia demi menjaga bentuk perjuangan yang mereka bangun. Puncaknya, kembali ke prolog ketika tangan Laut diikat dengan pemberat, kakinya diserimpung, lalu dipaksa terjun ke laut.

Babak kedua dimulai ketika rezim orde baru tumbang pada tahun 2000. Beberapa aktivis yang sebelumnya disekap telah dipulangkan, namun seperti Laut, Gala, Sunu, Kinan, dan 10 orang lainnya hilang. Disinilah peran Asmara Jati sebagai adik Laut yang juga korban dalam peristiwa ini. Melalui perspektif Asmara, kita bisa melihat dampak yang ditimbulkan dari hilangnya salah satu orang dekat kita. 

Asmara yang juga merasa kehilangan sosok kakak yang dekat dengannya, berusaha mati-matian untuk tetap rasional di lingkungan keluarga dan sekitarnya yang terus menyangkal hilangnya Laut. Perlahan, Asmara mulai kehilangan kasih sayang dari Ayah dan Ibunya yang hidup dalam ‘kepompong’. Ditambah, hubungannya dengan Alex yang harus kandas sebab keduanya masih berjuang dari luka menganga akibat peristiwa penculikan dan penyekapan. Alex sebagai penyintas masih mengalami trauma dan sedang berusaha mengatasinya. 

Sementara, Asmara harus berjuang mencari Laut dan aktivis lainnya yang hilang. Beban itu tentu tak bisa ditanggungnya. Tetapi ia berusaha untuk selalu kuat dan meneruskan perjuangannya bersama Komisi Orang Hilang. Bertahun-tahun berlalu, tetapi agaknya pemerintah tidak memprioritaskan pencarian. Berbagai giat seperti aksi kamisan rutin yang dilakukan oleh keluarga dan orang-orang terdekat juga tak digubris. Hal ini sungguh memilukan ketika melihat ketidakadilan terbengkalai di negeri ini selama bertahun-tahun.

Novel ini pun ditutup dengan pesan dari Laut kepada adiknya Asmara,

“Asmara adikku, saat ini aku berada di perut laut, menunggu cahaya datang. Ini sebuah kematian yang tidak sederhana. Terlalu banyak kelegapan, terlalu penuh dengan kesedihan. Kegelapan yang kumaksud adalah karena kau tak tahu aku berada di sini dan mencari-cari di mana aku berada. Karena itu, bayangkan saja, namaku Laut, di sanalah tempatku. Di dasar yang gelap dan sunyi, diam, dan tanpa suara.”

“Menurut sang penyair, kita jangan takut pada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong, demikian ujarnya. Tapi jangan pernah kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputusaasan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia,.....”

Begitulah sedikit kutipan dari surat panjang Biru Laut kepada adik, keluarga, dan kekasihnya Anjani. Terakhir, novel ini begitu hidup karena mampu membuat pembacanya ikut bertanggungjawab atas peristiwa hak asasi manusia. 

“Adapun kesedihan yang kumaksud karena kita tak akan bisa lagi bersama-sama. Paling tidak untuk waktu yang lama. Tetapi aku yakin kau akan selalu mendengar suaraku, perlawananku.......”

Barangkali, meski kita bukan korban, aktivis, atau selainnya, tetapi kita tidak bisa menutup mata atas peristiwa ketidakaadilan dan non manusiawi yang pernah terjadi di negeri yang kita tinggali ini. Kisah dalam buku ini mungkin dilabeli sebagai fiksi, tetapi perjuangan yang digambarkan hampir terasa nyata dan bukan tidak mungkin terjadi. Buku ini tidak hanya dipersembahkan untuk korban, tetapi membuka mata pada nilai kemanusiaan yang harus terus diperjuangankan oleh banyak partisipan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Mei Nurkholifah


TAG#humaniora  #review  #  #