» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Nasib Sial Si Miskin Dijerat Pemimpin Populis
17 Februari 2024 | Opini | Dibaca 473 kali
Nasib Sial Si Miskin yang Dijerat Pemimpin Populis: - Foto: Vecteezy.com
Pemilu telah berlangsung 14 Februari lalu. Momen lima tahun sekali itu adalah puncak rakyat mengimani calon pemimpinnya selama lima tahun ke depan pula. Melalui rangkaian kampanye yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, selama itu pula masyarakat menyaksikan meja demokrasi yang tak jauh berbeda dengan pameran rangkaian janji-janji manis populis.

Retorika.id - Pemilu telah berlangsung 14 Februari lalu. Momen lima tahun sekali itu adalah puncak rakyat mengimani calon pemimpinnya selama lima tahun ke depan pula. Melalui rangkaian kampanye yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, masyarakat menyaksikan meja demokrasi yang tak jauh berbeda dengan pameran rangkaian janji-janji manis populis. Kalimat “cari kerja mudah”, “bahan pokok murah”, “sekolah gratis”, bukan gagasan luar biasa karena seringnya pemimpin mudah amnesia dengan janjinya.

 Namun, bagi sebagian orang, nyatanya kalimat ini masih menjadi mantra sihir yang memikat untuk diingat di balik bilik suara. Padahal, janji-janji itu tak ayal hanya berakhir sebagai penawaran tidak bertanggung jawab. Janji yang sekadar untuk menarik dukungan namun jika dilihat lebih dekat bahkan terlalu surealis untuk diwujudkan.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik terdapat hampir 26 juta jumlah rakyat miskin di Indonesia pada bulan Maret 2023 lalu. Calon-calon legislatif tak pelak memandang hal ini sebagai ladang untuk menebar “mantra-mantra” populis alias program kerja yang menggiurkan bagi rakyat ekonomi rendah.


Walaupun miskin dalam artian ekonomi tidak selalu mencerminkan miskin secara mental, toh masih banyak juga yang mapan secara ekonomi namun lebih memilih menukar suaranya untuk selembar amplop putih. 

Agenda-agenda populis pada dasarnya tak hanya dilakukan pemimpin di negara ini, pemimpin negara adidaya seperti Donald Trump juga pernah melakukan hal demikian, salah satunya yang terjadi di Capitol Hill 3 tahun lalu. Trump membuat klaim palsu atas kecurangan pemilu 2020, dia menampilkan diri sebagai “pembela” golongan kulit putih konservatif. Trump memanfaatkan perasaan atas berkurangnya privilese kulit putih karena harus “berbagi” dominasinya dalam berbagai bidang dengan golongan ras lain. Hal ini menyebabkan massa menyerbu Capitol Hill dan mencegah sidang gabungan Kongres menghitung suara Electoral College untuk meresmikan kemenangan presiden terpilih Joe Biden (Nara, 2021).

Tentu bukan salah rakyat jika tergiur janji manis Si Populis. Jangankan pendidikan politik, data Kemendagri mengatakan yang mengenyam pendidikan sarjana pada 2022 hanya sekitar 12 juta orang atau 4,5% saja dari jumlah penduduk Indonesia (Rizaty, 2023). Belum lagi yang apatis. Lebih mudah untuk mereka mengonsumsi kalimat-kalimat surgawi yang tertulis di spanduk pinggir jalan daripada mencari tahu latar belakang calon pemimpin mereka. Lebih mudah untuk mereka menerima selembar dua lembar uang suap daripada melakukan riset terhadap program kerja calon pemimpin mereka.

Bagi mereka, bansos dan uang suap di kala detik-detik Pemilu adalah bentuk komitmen Si Populis untuk memberikan yang lebih banyak lagi untuk rakyat di masa depan. Padahal keliru, sungguh keliru. Akhirnya, lengkap sudah duet mematikan ini. Si Populis ingin rakyat tetap miskin dan/atau bermental miskin untuk terus melakukan siklus ini selama lima tahun sekali. Cukuplah orba untuk sekali, jangan diincip lagi. Jangan biarkan suara rakyat disetir iming-iming pembangunan semu. Kemajuan peradaban hak semua rakyat, bukan hanya hak elitis semata. Inginkah saat suatu desa diisolasi hanya karena tidak memilih partai sang diktator (baca: Golkar)? Jangan biarkan Si Miskin tetap dibodohi dan jangan mau dibodohi. Demokrasi bukan hanya tentang angka, namun juga bagaimana proses mencapai angka-angka itu.



Referensi:

Nara, P. A. (2021). Populisme Trump dan Pudarnya Demokrasi Ala Amerika. Unpar.Ac.Id.https://unpar.ac.id/populisme-trump-dan-pudarnya-demokrasi-ala-amerika/ 

Rizaty, M. A. (2023). Mayoritas Penduduk Indonesia Belum Sekolah pada 2022. Dataindonesia.Id.https://dataindonesia.id/varia/detail/mayoritas-penduduk-indonesia-belum-sekolah-pada-2022 

 

Penulis: Afifah Alfina

Editor: Jingga Ramadhintya


TAG#demokrasi  #kerakyatan  #politik  #sosial