» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 081281600703.

Opini
Sudahkah Yakin akan Janji Perubahan?
28 November 2017 | Opini | Dibaca 738 kali
Pemira: Pesta demokrasi atau ajang ambisi? Foto: DerapOnline
Kemeriahan Pemira tak ubahnya seperti Pemilu pada umumya. Berbagai media sosial dimanfaatkan sebagai medium kampanye para calon yang berkontestasi dalam Pemira. Apakah gagasan perubahan yang dijanjikan bisa memotong tali permasalahan di FISIP? Ataukah hanya sekedar formalitas kampanye belaka? Atau justru sekadar menjadi wadah eksistensi golongan tertentu?

retorika.id (28/07/2017) Pemilihan Mahasiswa Raya atau yang lebih populer dengan sebutan Pemira tidak jarang menjadi ajang pertarungan idealisme calon pemimpin di ranah kampus. Kemeriahan Pemira tak ubahnya seperti Pemilu pada umumya. Jika Pemilu memiliki Komisi Pemilihan Umum (KPU), Pemira juga memiliki Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPU-M) untuk menyelenggarakan pemungutan suara.

Berbagai media komunikasi seperti Instagram dan Line dimanfaatkan sebagai medium kampanye guna memperkenalkan calon kandidat yang diusung. Media sosial ini juga turut serta mengambil bagian menyebarkan visi dan misi partai politik. Tak hanya sampai di situ, KPU-M juga menyelenggarakan debat kandidat guna menyemarakan “pesta demokrasi” mahasiswa tahun ini.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 27 November 2017, KPU-M menyelenggarakan Debat Calon Legislatif periode 2017-2018 di Aula Soetandyo FISIP Universitas Airlangga. Pada debat kali ini, para calon legislatif berlomba-lomba

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

memaparkan visi dan misi masing-masing partai. Suasana debat berlangsung cukup kondusif tanpa pergolakan berarti. Semangat dan keseriusan sebagian mahasiswa dalam mengikuti debat juga patut diapresiasi.

Layaknya debat calon legislatif pada umumnya, banyak sekali janji dan gagasan perubahan yang dilontarkan selama debat berlangsung. Hal ini tentu sangat wajar, mengingat setiap partai mempunyai pandangan yang berbeda akan permasalahan di FISIP Universitas Airlangga.

Ketika debat berlangsung, salah satu panelis menanyakan kepada setiap partai mengenai pokok permasalahan mahasiswa di FISIP beserta upaya mengatasinya. Kemudian, para calon mulai memaparkan berbagai permasalahan di FISIP. Ada pun beberapa problematika yang dipaparkan meliputi : fasilitas dan sarana prasarana, mahasiswa yang terlalu mementingkan golongannya (kelihatannya para mahasiswa ini benar-benar makhluk sosial), kurangnya transparansi mengenai kinerja Ormawa, hingga masalah Malam Keakraban (MK) yang menjadi akar masalah dari tahun ke tahun. Memang benar, kegiatan MK tidak hanya menuai pro-kontra di kalangan mahasiswa, tetapi juga masalah perizinan dari dekanat.

Jika kita telisik lebih mendalam lagi, berbagai problematika tersebut bukan menjadi sesuatu hal yang baru. Sudah banyak mahasiswa yang tahu, bahkan menjadi korban dalam permasalahan ini. Kemudian yang menjadi pertanyaan besarnya adalah mampukah gagasan perubahan yang dijanjikan para kandidat bisa memotong tali permasalahan di FISIP? Ataukah hanya sekedar formalitas kampanye belaka? Atau justru sekadar menjadi wadah eksistensi golongan tertentu?

Sebagaimana kita ketahui, kepentingan golongan dan organisasi menjadi permasalahan laten di kampus kita. Open recruitment tidak ditunjukan kepada mereka yang benar-benar mempunyai kapabilitas. Kursi parlemen dan kuota anggota BEM terkadang hanya ditunjukan kepada mereka yang mempunyai relasi pertemanan dengan anggota yang sudah mempunyai jabatan. Mungkin beberapa pihak menilai pembagian kekuasaan di FISIP sudah secara merata. Kursi parlemen juga telah ditunjukan kepada orang memiliki kapabilitas yang teruji. Namun apa pun bentuknya, jika masih lebih memprioritaskan kawan tetap saja disebut nepotisme.

Hakikatnya, partai-partai yang berkontestasi dalam Pemira pun tidak luput dari kepentingan golongan tertentu. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, terdapat beberapa golongan-golongan yang menggerakan partai dari belakang. Dengan demikian, mampukah para calon mewujudkan perubahan FISIP menjadi lebih baik tanpa menitikberatkan pada kepentingan golongan? Atau justru janji kampanye yang diucapkan hanya sekadar menjadi kata indah tanpa makna? Entahlah, biar masyarakat FISIP sendiri menilai siapa calon yang mampu mewakili suara mereka.

Semoga pesta demokrasi ini tidak sekedar menjadi pertarungan ambisi. Idealisme dan energi positif para calon harus tetap terjaga hingga kelak menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

Selamat Memilih, Mahasiswa !

 

Penulis : Pulina Nityakanti P.

Editor : Roudlotul Choiriyah


TAG#aspirasi  #bem  #blm  #demokrasi