» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Mild Report
Ketika Warga Amerika “Menghina” Veteran-veteran Perangnya
16 Juli 2020 | Mild Report | Dibaca 220 kali
Mild Report: Beberapa Tentara Amerika Berlari Mendekati Helikopter UH-10 “Huey” di Medan Tempur Vietnam Foto: Pixabay
Ketika para veteran itu pulang dari medan perang, tak ada sambutan meriah seperti biasanya. Orang-orang malah mencemooh habis-habisan veteran perang itu sebagai pembunuh anak, pemerkosa, dan pembakar rumah-rumah warga tidak berdosa.

retorika.id- Amerika Serikat, sebagai negara adidaya dan adikuasa dikenal memiliki kekuatan militer yang luar biasa mumpuninya. Sejarawan menyebutkan, Amerika Serikat sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Ketika itu, tahun 1960-an, dimana Presiden Kennedy mendengar gelagat buruk orang-orang Vietnam Utara yang dipimpin Ho Chi Minh, untuk melakukan penyerangan pada negara sahabat Vietnam Selatan. Presiden Kennedy akhirnya mulai mengirim beberapa pasukan Amerika untuk membantu tentara Vietnam Selatan menjaga kedaulatannya.

Hal itu berlangsung cukup lama, bahkan sampai Presiden Kennedy mati ditembak Lee Harvey Oswald di Austin, Texas, kegiatan pengiriman pasukan ke Vietnam masih terus dilakukan. Malah, Presiden Lyndon Baynes Johnson, presiden selanjutnya setelah Presiden Kennedy menambah begitu banyak pasukan untuk pergi bertempur melawan orang-orang Viet Cong di rimba Vietnam.

Pengiriman terus-terusan Pasukan ke Vietnam ini membuat publik bertanya-tanya, ada apa sebenarnya di Vietnam. Apalagi, Pemerintah sampai-sampai mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk anggaran perang ke negara antah berantah di Asia Tenggara sana. Kurang lebih $150 Billion dan masih terus merangkak anggarannya.

Masih kurangnya jumlah tentara di rimba Vietnam sana, membuat Pemerintah Amerika Serikat dibawah Administrasi Presiden Johnson membuat draft pengiriman tentara pada para remaja Amerika yang berusia di atas 18 tahun. Tidak semua orang yang memenuhi syarat akan dibawa pergi ke Vietnam. Pemerintah Amerika Serikat menerapkan sistem lotre terhadap para remaja.

Sistem konskripsi atau wajib militer demi negara antah berantah itu sangat ditentang oleh masyarakat Amerika pada umumnya.

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

Sebut saja Muhammad Ali, petinju kelas berat itu namanya masuk dalam lotre keberangkatannya menuju Vietnam. Memang hal ini dilakukan pemerintah agar dapat memacu semangat para pemuda untuk ikut pergi ke Vietnam layaknya Ali. Karena saat itu juga, banyak sekali entertainer yang pergi berangkat wajib militer. Seperti Elvis Presley, partisipasi Presley dalam wajib militer cukup mendongkrak sukarelawan untuk ikut mendaftar pada Perang Vietnam. Ali sebenarnya akan mendapat banyak keistimewaan jika ia mau menandatangani saja draft pemberangkatannya itu. Seperti yang dialami Presley.

Namun Ali menolaknya. Gerakan penolakan oleh Ali ini membakar gerakan perlawanan pada pemerintah oleh banyak pihak, utamanya orang-orang Afrika-Amerika. Dr. Martin Luther King, advokat dan aktivis gerakan kesetaraan hak warga negara memengaruhi banyak orang Afrika-Amerika untuk tidak patuh terhadap konskripsi Perang Vietnam. Dr. King sampai-sampai menyebutkan bahwa, akan muncul nama Vietnam dalam otopsi kejahatan Amerika Serikat di dunia.
Dalam catatan Stanley Karnow dalam bukunya Vietnam (1997) menyatakan bahwa penolakan keras disuarakan oleh para remaja, penganut gerakan hippie, dan orang-orang Afrika-Amerika yang saat itu juga sedang berjuang demi kesetaraan hak warga negara. “Go… Go… Go… Uncle Hoo, you can win.” "Ayo… ayo… ayo… Paman Hoo, kau bisa menang," salah satu kata paling populer saat itu. Karena saking jengkelnya masyarakat Amerika terhadap kebijakan yang tidak masuk akal itu.

Namun begitu, Presiden Johnson yang sudah mengirim tentara konskripsi dan sukarelawan hingga 82.000 pasukan itu masih dirasa kurang oleh penasehat militernya. Penasehat tersebut menginginkan tambahan pasukan sebesar 175.000. Angka yang masih jauh dari apa yang didapat sekarang. Namun, serangan demi serangan keluar mulus dari kritikusnya. Utamanya orang-orang Partai Republik. Richard Nixon mengkritik Presiden Johnson yang tidak mencoba membuka jalan perdamaian di Vietnam. Malah mengadakan serangan ke utara dengan sandi Operation Rolling Thunder, di mana pesawat Pembom USAF F-105 menjatuhkan beribu-ribu bom di atas langit Hanoi. Tidak hanya dari opposan politiknya, kawan sesama partainya, Robert Kennedy, Humprey, dan banyak lagi juga mengkritik kebijakan stabilitas Asia Tenggaranya ini.

Namun tetap saja, ribuan pemuda Amerika berangkat menuju tempat antah berantah itu. Gerakan perlawanan semakin keras menjalar. Pemuda-pemuda yang masuk lotre tidak berani, banyak dari mereka yang melarikan diri atau memilih hidup di penjara. Sedang mereka yang berangkat perang ke Vietnam, mereka mendapat stigma aneh dari masyarakat Amerika pada umumnya.

Ketika 1972, dimana dua Vietnam akhirnya memilih untuk berdamai, banyak sekali pasukan Amerika yang pulang ke rumah yang sangat dirindukannya itu. Pemuda yang berangkat secara terpaksa hingga kehilangan masa muda demi hidup berpegangkan senjata dan berjalan merunduk, pengap, dan takut. Berhati-hati berjalan di tengah-tengah hutan tropis penuh perangkap dan nyamuk malaria yang satu gigitan saja lebih berbahaya daripada tembakan orang-orang Viet Cong. Mereka akhirnya bisa pulang dan paling tidak berharap disambut dengan hangat oleh orang-orang Amerika, layaknya veteran Perang Dunia II sebelumnya.

Namun apa yang terjadi, ketika para veteran muda ini menginjakkan kaki di tanah kelahiran mereka sendiri. Orang-orang mulai sinis melihati mereka. Orang-orang menderita di hutan pengap Vietnam itu dicemooh habis-habisan oleh masyarakat. Banyak dari mereka yang dihina sebagai pemerkosa, pembunuh anak-anak, dan pembakar desa-desa.

Ketika Presiden Nixon turun dan digantinkan Presiden Ford, mayoritas senat Amerika menolak penurunan pasukan dalam membantu Vietnam Selatan menanggulangi agresi Vietnam Utara pada tahun 1975. Hal ini menambah kekalutan Veteran Perang Vietnam tersebut. Mereka menganggap hidupnya jauh lebih sia-sia, karena tak ada gunanya mereka berangkat ke rimba tropis. Apalagi, setelah itu, banyak dari mereka yang sulit mendapat pekerjaan karena stigma-stigma yang menyebar di masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Kisah seperti ini sempat diangkat pada layar lebar bertajuk kisah veteran bertubuh kekar bernama Rambo. Dalam film Rambo: First Blood, diceritakan saat itu, ketika ia hanya ingin mampir di satu kota saja, masyarakat tersebut tidak menerimanya dan terkesan merendahkannya. Tidak hanya film Rambo, banyak film-film dan karya sastra lain yang menceritakan kondisi veteran Vietnam saat itu. Veteran Vietnam, apalagi mereka yang lahir dari latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja, bisa jauh lebih buruk hidupnya dari apa yang dibayangkan.

Hingga pada akhirnya, Presiden Jimmy Carter memilih untuk membuka suara mengakui keberadaan mereka. Mereka mendapatkan jaminan hidup layak, pensiun, dan berbagai macam hak-hak istimewa veteran yang selama itu tidak didapatkannya. Pandangan masyarakat juga perlahan-lahan mulai berubah, mereka mulai berempati dengan veteran Vietnam itu. Pemerintah Amerika Serikat sampai membangun “Vietnam Memorial Wall,” sebagai penghargaan atas dedikasi Veteran Amerika pada perang Vietnam tersebut.

Penulis: Muhammad Alfi Rahman


TAG#pemerintahan  #  #  #