» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Dialog Sejarah “1965: Sejarah yang Dikubur”
05 Oktober 2020 | Liputan Khusus | Dibaca 84 kali
Dialog Sejarah: 1965:Sejarah yang Dikubur Foto: Dokumentasi Pribadi/Rimaya Akhadiyah
Isu komunisme akan selalu bangkit setiap September datang. Terdapat sejarah yang sengaja diciptakan untuk tidak diingat, sehingga menimbulkan stigma yang keberadaannya jauh lebih kuat di atas fakta kekerasan yang ada.

retorika.id- September menjadi bulan yang akan mengingatkan rakyat Indonesia pada sejarah kelam peristiwa ‘65. Pada bulan September pula, isu komunisme akan menjadi topik hangat yang menghiasi diskusi terbuka, baik di layar kaca maupun media sosial. Pada Selasa (29/09/2020) pukul 10.00 WIB, Historia.id mengadakan acara dialog sejarah bertajuk “1965: Sejarah yang Dikubur” yang ditayangkan secara langsung melalui channel YouTube-nya.

Bonnie Triyana sebagai Pemimpin Redaksi Historia memandu acara yang turut mengundang dua pembicara lain, yaitu Grace Leksana dan John Roosa. Grace Leksana adalah seorang peneliti sejarah. Ia meraih gelar doktornya di Leiden University, Belanda dengan disertasi yang membahas tentang memori kolektif kekerasan 1965 di Jawa Timur dengan mendekati peristiwa dari perspektif antropologi.

Sedangkan, John Roosa adalah seorang penulis sekaligus sejarawan dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada. Ia telah menulis dua buku yang berkaitan dengan peristiwa ‘65, di antaranya Pretext for Mass Murder:

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

The September 30th Movement and Suharto’s Coup D’Etat in Indonesia yang terbit pada tahun 2006, serta buku terbarunya yang terbit tahun ini, yaitu Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia.

 

Ingatan yang Berhenti di 1 Oktober

Bonnie membuka dialog sejarah dengan mengutip pernyataan Soekarno bahwa sebenarnya peristiwa ‘65 terbagi menjadi tiga babak. Namun, ia menyayangkan bahwa ingatan rakyat Indonesia hanya berhenti di 1 Oktober saja, yaitu saat pembunuhan tujuh jenderal terjadi.

“Kita tidak bisa membenarkan ataupun melegitimasi ataupun memperbolehkan peristiwa itu. Saya pikir ini jadi prinsip kita semua bahwa pembunuhan itupun tidak bisa kita benarkan. Namun, kita juga tidak bisa membiarkan peristiwa-peristiwa lainnya setelah itu (penumpasan orang-orang yang dianggap PKI),” ujar Bonnie.

Dia lantas memancing Grace untuk menceritakan tentang fokus disertasinya yang dilakukan di salah satu desa di Kabupaten Malang Selatan. Grace mencoba untuk mengulik bagaimana peristiwa ‘65 diingat oleh warga di sana. Bagi warga yang merasa dirugikan bahkan masih distigma sebagai orang PKI menganggap bahwa narasi negara yang ditulis oleh pemerintah Orde Baru tidaklah benar. Sedangkan, sebagian dari mereka yang turut membantu operasi pembersihan PKI lantas mendapatkan keuntungan, mereka akan tetap mempertahankan narasi pemerintah Orde Baru.

Akibatnya, apa yang Angkatan Darat lakukan dalam menumpas orang-orang PKI dengan cara yang tidak wajar terkubur begitu saja. Seakan terjadi normalisasi kekerasan yang masih terjadi hingga sekarang. Hal ini diakibatkan narasi Orba yang terlanjur begitu kuat ditanam dalam ingatan masyarakat melalui kekerasan yang dilakukan PKI di peristiwa Madiun 1948 dan peristiwa 1965.

 

Sejarah yang Sengaja Dihilangkan

Mendengar pernyataan Grace, Bonnie mencoba melempar pertanyaan baru pada John. Dia meminta pendapat John tentang peristiwa sejarah yang hilang atau bahkan sengaja dihilangkan dari peristiwa ‘65 ini.

John langsung memberikan jawaban yang merujuk pada bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan oleh tentara-tentara pada orang-orang yang dianggap PKI. Bentuk kekerasan pertama yang dijelaskan oleh John adalah pembunuhan massal. Baginya, tiap daerah mempunyai pola yang berbeda-berbeda, sehingga ketika berbicara tentang pembunuhan massal dibutuhkan perspektif lokal.

Di kesempatan ini pula, John juga sempat menyinggung tentang penghilangan paksa. Bentuk kekerasan yang satu ini biasanya dilakukan pada narapidana yang sudah tidak berdaya, mereka diangkut oleh truk untuk dibawa ke tempat sepi, lantas dibunuh. Sehingga, tidak ada ingatan yang jelas untuk disisakan.

“Susah sekali mengingat hal yang sengaja dibuat untuk tidak diingat,” jawab John.

Melalui penelitiannya sendiri, John mengungkapkan bahwa bagi orang-orang yang hidup di tahun tersebut tidak ada yang menganggap apa yang terjadi itu dapat diwajarkan. Mereka menilai kekacauan ‘65 itu abnormal, bahkan tidak ada yang pernah bisa membayangkan sebelumnya bahwa tragedi itu terjadi di Indonesia.

 

Penulis: Rimaya Akhadiyah


TAG#event  #pemerintahan  #sejarah  #sosial