» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 081281600703.

Liputan Khusus
Konferensi Pers Pementasan Teater “Aktivizm” : Potret Pergerakan Aktivis di dalam Perhelatan Era
13 April 2018 | Liputan Khusus | Dibaca 630 kali
Potret Pergerakan Aktivis di dalam Perhelatan Era: - Foto: Septyawan Akbar
Teater "Aktivizm" menjadi medium yang merepresentasikan pergerakan aktivis yang ada di Indonesia. Dilema yang ada di dalam diri aktivis, antara pilihan idealisme dan kesulitan ekonomi yang harus diterima. Sanggar Lidi Surabaya mencoba memotret keresahan tersebut, melalui retrospeksi pergerakan aktivis, di dalam perhelatan era.

Rabu, (02/04/2018) “Teater adalah ibu dari segala pertunjukkan seni, di dalam teater berbagai esensi seni dari seni tari dalam koreografi, seni sastra dalam naskah dan cerita, dan seni pertunjukkan dalam teater dan pementasan drama, yang turut diyakini oleh WS Rendra sebagai salah satu seniman terbaik Indonesia”. Hal itu merupakan cuplikan jawaban dari Sutradara sekaligus penulis naskah Totenk MT Rusmawan dalam  konferensi pers dari pementasan teater Sanggar Lidi Surabaya. Sanggar teater ini, dalam proses kreatifnya menghasilkan naskah dan teater orisinil  yang berjudul “Aktivzm” sebagai potret dan refleksi dari perhelatan era yang terjadi di Indonesia, dan tonggak sejarah pergerakan aktivis yang ada, baik dari era Perjuangan Kemerdekaan, G30S/PKI, Malari 1974, Petrus (Penembakan Misterius) dan Reformasi Orde Baru sebagai puncak gerakan aktivis. Bertempat di Gedung kesenian Cak Durasim Surabaya pada Rabu Malam, Teater Aktivizm muncul sebagai retrospeksi dari gerakan aktivis yang ada di Indonesia

Sanggar Lidi Surabaya berdiri sejak tahun 2012 sebagai wadah kreatif bersama di Surabaya yang bergerak di bidang seni teater ini telah melahirkan beberapa karya seperti Dharma Seni untuk Negeri, dan pada tanggal 11 April 2018 akan ada pementasan teater untuk yang kesekian kalinya sebagai sumbangsih nyata untuk bangsa dan negara Indonesia. Totenk M.T Rusmawan, Wiek Herwiyatmo, dan Ndinndy Indijati

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

menjadikan Sanggar Lidi Surabaya sebagai wadah kreatif pementasan teater yang turut dipengaruhi oleh Bengkel Teater Rendra, dengan M.T Rusmawan yang pernah belajar langsung dari kiblat teater Indonesia tersebut.

Satrio selaku pimpinan produksi Dharma Seni Untuk Negeri III menyatakan bahwa pertunjukan teater ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa teater di Surabaya itu tidak mati. Ia menambahkan bahwa fakta tentang keberadaan aktor yang 90% berusia di bawah 25 tahun juga sebagai bukti bahwa seni teater masih diminati di zaman “milenial” dewasa ini. Akivzm muncul untuk menjawab pertanyaan akan eksistensi dari dunia teater di Surabaya, dan terbukti berhasil menarik minat massa dengan habisnya tiket pertunjukkan teater ini dan menjawab kritik terhadap Teater yang seolah mati suri” lanjut Satrio

 “Aktivzm” berangkat dari fenomena dunia aktivisme di Indonesia yang dapat dikatakan mengalami stagnasi. Banyak aktivis yang menjual  ideologismenya kepada para penguasa, namun ada pula yang bertahan dengan ideologinya walau hidup dengan kesengsaraan. Potret dari kedua sisi tersebut menjadi dilema dan gambaran nyata dari fenomena hidup aktivis yang terjadi pada saat ini

“Naskah yang disajikan dari “Aktivizm” ini mengambil sudut pandang dari sifat kesewenang-wenangan yang kerap terjadi, dengan para aktivis yang banyak tertumpangi oleh berbagai kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Naskah ini saya buat atas kerisauan saya dengan perkembangan situasi dari pergerakan dunia aktivis itu sendiri,” ujar Totenk.

 

Fragmen Dua Adegan di Konferensi Pers “Aktivizm”

Menampilkan dua babak di hadapan awak media Surabaya, Sanggar Teater Lidi menampilkan dialog diantara dua pemain dengan dengan latar belakang panggung warung kopi. Pasangan suami istri diceritakan berada dalam dilema antara Idealisme sang Suami sebagai Aktivis, dan lilitan hutang dan beban ekonomi yang menjerat keluarga tersebut yang dikeluhkan oleh tokoh istri.  

Fragmen adegan yang kedua menunjukkan tentang pembacaan epilog dari seluruh aktor yang terlibat. “Jikalah tubuhmu resah, bertanyalah! Bila pikirmu buntu, merenunglah! Andai hatimu lusuh, bersihkanlah! Namun apapun keluhmu, jangan katakan menyerah! Aktivis adalah simbol masyarakat kritis. Mereka tidak boleh hidup pesimis. Harus mampu senantiasa menjaga garis. Agar bangsanya tak melewati batas krisis” menjadi kata – kata yang didengungkan oleh para pemain teater yang ditutup dengan senandung lagu darah juang dari para pemain teater.

 

Aktivizm sebagai Teater Potret Pergerakan Aktivis

Melalui cuplikan dua adegan tersebut Aktivizm dalam esensi pertunjukkannya mencoba untuk merepresentasikan keadaan pergerakan aktivis yang terjadi saat ini. Terdapat dilema yang terjadi dari kalangan dengan pertahanan idealisme yang dianggap diselaras dengan kesengsaraan ekonomi. Tujuan dari pementasan Aktivizm mencoba untuk menularkan semangat idealisme dari para aktivis dalam perhelatan era yang terjadi dalam dinamika sejarah Indonesia. Dukungan moril juga ditunjukkan untuk para aktivis yang memilki semangat idealisme yang tinggi namun terjebak dalam kesulitan ekonomi. Publik dan para penonton pertunjukkan ini diharapkan dapat bersimpati dalam perjuangan pengabdian para aktivis.

Melalui medium seni teater, Balai Lidi Surabaya kembali menekankan pergerakan aktivis sebagai pergerakan pengabdian. Mengabdi pada kebenaran dan keadilan. melawan apapun segala bentuk penindasan. Musuh sejatinya adalah kesewenang-wenangan. Jikalau pemerintah sewenang-wenang, maka harus dilawan. Bila diri sendiri sewenang-wenang, juga harus dilawan. Andai siapapun mereka, meski atas nama aktivis, namun mereka berbuat sewenang-wenangan, maka aktivispun harus dilawan ! Aktivizm menjadi potret pergerakan aktivis dalam idealisme dan semangat bersama melalui pertunjukkan seni dan teater.

 

Reporter : Siti Khalimatus Sa'diyah dan Septyawan Akbar


TAG#aspirasi  #event  #gagasan  #humaniora